Posts

Showing posts with the label Pelangi Kehidupan

IBU, BETAPA BERHARGANYA SIH UNTUK KITA?

Image
P engamalan eh salah maksud saya pengalaman. Hehe Ya pengalaman adalah guru yang paling baik. Guru yang paling baik yang pernah saya temui, guru yang paling sabar dalam mengajari, guru yang tidak pernah mengeluh dalam mengajarkan kita (apasih). Ya dari pengalaman kita diajarkan caranya terjatuh tapi dari pengamalan itu pula kita diajarkan untuk bangkit setelah terjatuh. Kadang banyak hal kecil yang tanpa kita sadari ternyata sangat berharga untuk sebuah nasihat kehidupan.           Ya itulah pengalaman. Kok jadi ngelebar kemana” sih yang dibahas, tenang-tenang. Pengalaman itu hampir sama dengan kata yang sering kita dengar yaitu “ibu”. Ya that’s right anda enggak salah baca kok itu memang Ibu .           Mungkin banyak yang tidak tahu betapa besarnya pengorbanan seorang ibu. Apa yang dilakukan seorang ibu itu pasti dengan penuh keikhlasan untuk memperjuangkan nasib anak-a...

I Didn‘t Mean To...

Pernahkah suatu kali kita menemui bahwa ternyata secara tak sengaja telah tersakiti hati orang-orang lain di sekitar kita. Kita melangkah memulai hari tanpa mengerti bahwa kemarin, dua hari lalu, atau hari-hari sebelumnya lagi, entah berapa banyak orang yang tak berkenan dengan apa yang telah kita lakukan. Walau tanpa sadar, walau tak bermaksud demikian, namun hati yang terlanjur tersakiti, sulit tuk dipulihkan lagi. Suatu kali, saat menjalani tingkat pertama perkuliahan, seseorang pernah berkata pada saya, "Kamu galak banget ya?" Ups! Saat itu saya benar-benar kaget. Galak? Ya, mungkin juga sih. Rasanya saya memang tidak pernah seperti si A, teman saya, yang bisa dengan ramainya berkicau menyapa setiap orang yang ia lewati di lorong kampus. Kemudian saya pun bertanya lebih lanjut, mencoba memahami "complain" yang saya terima hari itu. Teringat waktu kelas XI Madrasah Aliyah dulu. Saat saya dan teman-teman lain menjadi pengurus Paskibra MAN 2. Berkutat dengan...

Hanya Ingin Jadi Orang Baik

Hari ini aku lelah.   Hari ini, aku tiba-tiba saja ingin merenung. Merenungi makna hidupku, merasai peranku dalam perjalanan sang waktu. Kali ini aku merasa tak lagi berhati. Kali ini di kepalaku hanya ada obsesi. Obsesi dihargai manusia dan diimbali deretan angka di rekeningku setiap bulan berganti. Hari ini aku hanya ingin mengingat. Merindui masa saat aku bercita sederhana. Menjadi orang baik. Orang yang memberi arti bagi orang lain. Tak pernah melukai, meski setitik. Tak pernah menyakiti, meski senoktah. Padahal aku tak pernah ingin berpura-pura dalam hidupku. Aku ingin menjadi aku. Dengan idealismeku dulu. Menyampaikan apa yang perlu kusampaikan. Tak perlu menyampaikan kepalsuan. Aku ingin menyampaikan kebenaran. Jika kepalsuan itu harus disampaikan, semata untuk membuat si palsu terkuak. Aku ingin menjadi orang baik. Padahal aku ingin, dengan peranku aku memberi secercah harap. Seberkas asa. Bagi mereka, Tuhan. Mereka yang dihempas duka, mereka yang terluka, mere...

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh…sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa. Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa. Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus ...

Sayuu…ur !

Image
Seketika ibu-ibu yang enggan pergi ke pasar mengerubungi Mang Sayur. Kalau bahan masakan yang diperlukan tidak banyak, maka menunggu Mang sayur lewat menjadi pilihan. Seperti biasa, ibu-ibu ribut memilih sayuran dan bahan masakan lainnya di gerobak yang tidak seberapa besarnya. Mang Sayur hanya senyum-senyum saja. Dimatanya, satu ibu-ibu adalah satu sumber rupiah. Setelah memilih bahan belanja, mulailah tawar menawar harga. Dengan sedikit memaksa, para ibu meminta harga spesial. Susah payah Mang Sayur menerangkan bahwa dirinya hanya mengambil untung sedikit dari tiap-tiap sayuran. Tapi rupanya kekhawatiran kehilangan pelanggan membuatnya hanya bisa mengiyakan ketika para ibu mengumpulkan belanjaan yang sudah dipilih untuk kemudian membulatkannya ke bilangan yang rendah. "Udah Mang, segini jadi Rp 5.000 aja yah!". Padahal harga asli adalah Rp 5.400. Sepele memang. Tapi persoalannya tidak jadi sepele jika Mang Sayur mengambil keuntungan itu justru dari tiap ...

Biar Cinta itu Bermuara Dengan Sendirinya

Image
Kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu di satu dermaga? Padahal kulihat, bukan hanya satu pelabuhan tenang yang mau menerima kehadiran kapalmu! Kalau dulu memang pernah ada satu pelabuhan kecil, yang kemudian harus kau lupakan, mengapa tak kau cari pelabuhan lain, yang akan memberikan rasa damai yang lebih? Seandainya kau mau, buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu, pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya, hingga pelabuhan itu jadi rumahmu, rumah dan pelabuhan hatimu. Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan - kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan. Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan it...