Sayuu…ur !
Seketika ibu-ibu yang enggan pergi ke pasar mengerubungi Mang
Sayur. Kalau bahan masakan yang diperlukan tidak banyak, maka menunggu Mang
sayur lewat menjadi pilihan.
Seperti biasa, ibu-ibu ribut memilih sayuran dan bahan masakan
lainnya di gerobak yang tidak seberapa besarnya. Mang Sayur hanya senyum-senyum
saja. Dimatanya, satu ibu-ibu adalah satu sumber rupiah.
Setelah memilih bahan belanja, mulailah tawar menawar harga.
Dengan sedikit memaksa, para ibu meminta harga spesial. Susah payah Mang Sayur
menerangkan bahwa dirinya hanya mengambil untung sedikit dari tiap-tiap
sayuran. Tapi rupanya kekhawatiran kehilangan pelanggan membuatnya hanya bisa
mengiyakan ketika para ibu mengumpulkan belanjaan yang sudah dipilih untuk
kemudian membulatkannya ke bilangan yang rendah. "Udah Mang, segini jadi
Rp 5.000 aja yah!". Padahal harga asli adalah Rp 5.400.
Sepele memang. Tapi persoalannya tidak jadi sepele jika Mang Sayur
mengambil keuntungan itu justru dari tiap ratus rupiah yang dipotong. Tentu
saja itu tidak termasuk biaya tenaga yang sudah dikeluarkan untuk mengayuh
kereta gerobak mengelilingi rumah-rumah penduduk.
Lain waktu, seorang ibu penjaja gorengan dan kerupuk ringan lewat
depan rumah. Ia tengah hamil tua. Tapi subhanallah, kondisi fisiknya tidak
mengurangi semangatnya mengais rejeki. Padahal jarak yang ditempuh tidak dekat.
Barang bawaanya pun banyak. Yang satu di tanggung di kepala. Lalu keresek besar
masing-masing dibawa oleh keduatangannya.
Iseng saya tanya keuntungan yang diperolehnya. Dengan jujur ibu
itu menjawab kalau dirinya hanya mengambil seratus rupiah dari tiap bungkusnya.
Padahal ia telah memiliki banyak anak dan otomatis membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Dengan keuntungan yang tidak seberapa, masih saja barang dagangannya
di tawar.
Fenomena diatas adalah realitas di sekitar kita. Seorang pedagang
kecil yang hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa dan kadang tidak
mencukupi, harus berhadapan dengan pembeli yang menawar dengan harga sangat
rendah. Tapi tentu saja, tawar menawar dalam sebuah transaksi adalah sesuatu
yang lazim. Namun bukan konteks aktifitas tawar menawarnya yang menjadi
persoalan. Tapi sikap kita sebagai konsumen ketika melakukan tawar menawar.
Dibutuhkan sebuah perenungan ketika disatu sisi dengan tanpa perasaan
bersalah menawar harga dengan sangat rendah untuk sebuah dagangan yang
dijajakan pedagang kecil dan dalam waktu bersamaan mengambil barang dengan
mudahnya ketika berjalan-jalan di Mall tanpa sedikitpun menggugat harga yang
tertera di labelnya.
Padahal keuntungan yang didapat sangat jauh berbeda. Bisa jadi,
tiap rupiah yang mereka kumpulkan hanya cukup untuk makan dan tidak lebih. Bahkan
bisa jadi tidak cukup.
Saya jadi teringat ketika belanja keperluan disebuah supermarket.
Saat sedang memilih alat tulis, disebelah saya berdiri seorang bapak dengan
sandal jepit dan topi lusuh. Dari rompi yang dikenakannya, saya menduga bapak
itu seorang tukang ojek.
Ia tampak lama menimang-nimang satu paket alat tulis. Tampaknya
untuk dihadiahkan pada anaknya. Sikapnya yang lama membuat saya berpikir. Saya
mengira-ngira kalau harganya yang memang cukup mahal membuatnya ragu-ragu.
Harganya itu sebanding dengan beberapa kali bolak balik ngojek Akhirnya,
setelah lama ia menimang-nimang, satu paket alat tulis itu disimpannya kembali.
Lalu berjalan perlahan meninggalkan counter alat tulis. Mungkin baginya lebih baik
membeli segantang beras.
Sangat berbeda dengan sikap kita yang begitu mudahnya mengeluarkan
rupiah demi rupiah untuk sesuatu yang tidak penting. Hanya untuk kesenangan
belaka.
Saling mengikhlaskan ketika tawar menawar menjadi kunci. Semoga
kita bisa bersikap bijak untuk menghargai usaha mereka tanpa perlu menjadi
gundah di hati karena tidak berhasil menawar dengan harga paling rendah.
Anggaplah itu sebagai shodaqoh. Apalagi mengambil sikap berbelanja ke tempat
lain hanya karena beda beberapa ratus rupiah. Terkecuali jika kita memang sama
membutuhkannya seperti mereka.

Comments
Post a Comment