Resensi "Matahari" - Tere Liye


Judul           : MATAHARI
Penulis         : Tere Liye
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan       : I, Juli 2016
Tebal           : 400 hlm; 20 cm 

Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. jika saja orang tuanya mengizinkannya, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya. 
Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.
Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.
Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan diatas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.  
                                                            ***         
Novel Matahari merupakan novel ketiga dari serial novel Bumi. Novel karya Tere Liye ini menyuguhkan tentang perjalanan, petualangan, dan persahabatan yang terbalut cerita fantasi tentang dunia paralel. Novel ini mengisahkan perjalanan Raib, Seli, dan Ali untuk mencari Klan Bintang.
Selama enam bulan sejak pulang dari “liburan” di Klan Matahari, Ali melakukan penelitian dan mencari tahu mengenai keberadaan Klan Bintang. Ia yakin sekali bahwa klan tersebut memang ada. Berbekal “oleh-oleh” dari Av, kemudian Ali mempelajari banyak hal. Oleh-oleh tersebut berbentuk tabung kecil yang berisi softcopy buku-buku perpustakaan milik Av. Ali dengan segala rasa penasarannya mempelajari seluruh buku itu. Dia sangat tertarik mempelajari teknologi Klan Bulan dan Klan Matahari. Ia pun berhasil “menghidupkan kembali” Ily—teman berpetualang saat di Klan Matahari.
“Raib, Seli, perkenalkan anggota baru tim kita, inilah dia ILY!” (Hal 61)
ILY yang dimaksud Ali bukanlah Ily dari Klan Bulan, karena sudah jelas Ily sudah meninggal dan tidak dapat dihidupkan kembali. Namun, semangat dan kekuatan Ily sesungguhnya tidak pernah mati, semuanya membekas masuk ke relung hati Ali, hingga Ia memutuskan untuk membuat sebuah kapsul terbang yang super genius yang akan menemani mereka melakukan petualangan. Kapsul ini bisa menghilang dan bisa mengeluarkan petir.
“Kenapa kamu memberinya nama ILY?” Seli bertanya saat kami sudah ada di basement.
“Satu, untuk mengenangnya....” Ali diam sejenak, mengusap rambut berantakannya. “Dua, kapsul perak ini dibuat agar sama bisa diandalkannya seperti Ily, teman yang setia. Kapsul perak ini juga petarung yang hebat, bisa membela kita dari posisi sulit, seperti yang dilakukan Ily. Tetapi hanya satu yang tidak dimilikinya seperti Ily...”
Ali terdiam sejanak.
Aku dan Seli menatap Ali. Kami menunggu penjelasan selanjutnya.
Ali nyengir lebar. “Kapsul ini tidak secerewet Ily. Dia tidak akan menyuruh kita bergegas, meneriaki agar kita semangat, atau galak membangunkan kita saat masih lelap, melarang ini, melarang itu. Kapsul ini lebih pendiam. Tapi di atas semua itu, aku memutuskan memberikan nama ILY karena itu adalah nama seseorang yang telah mengorbankan hidupnya demi kita semua. ILY, namanya, akan terus menemani kita bertualang.” (Hal 65)
ILY pun menjadi teman perjalanan mereka dalam mencari Klan Bintang, karena seperti yang kita ketahui bahwa Raib tidak menggunakan “Buku Kehidupan” miliknya untuk berangkat menuju Klan Bintang, perjalanan kali ini mereka lakukan melalui perjalanan fisik dengan sangat seru dan menegangkan, mereka memasuki lorong-lorong bawah tanah yang sebenarnya mereka pun tidak tahu pada akhirnya mereka akan sampai dimana. Di awal perjalanan mereka sudah bertemu dengan ular raksasa, kemudian tidak hanya sampai disitu, karena mereka pun harus kembali berhadapan dengan segerombolan kelelawar raksasa. Ular dan kelelawar yang mereka hadapi bukan hewan biasa seperti di Bumi, hewan-hewan ini lebih purba namun memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dan lebih hebat, mereka bahkan tetap bisa membaca gerakan teleportasi (menghilang) yang dilakukan oleh Raib.
Nah, bagaimanakah petualangan mereka dalam mencari Klan Bintang? Apakah Klan Bintang termasuk klan yang memiliki teknologi tingkat tinggi atau justru klan yang ketinggalan zaman? Lalu, bagaimanakah cara mereka kembali ke dunia permukaan? Silahkan baca novel Matahari karya Tere Liye ini agar kalian bisa menemukan jawabannya.
***
Novel Matahari ini menggunakan sudut pandang yang sama dengan dua novel sebelumnya—Bumi dan Bulan, yaitu sudut pandang orang pertama, lebih tepatnya dari sisi Raib. Penulis menceritakan setiap detail perjalanan cerita ini dengan luwes dan membuat imajinasi pembacanya bermain. Bahkan jika terlalu berimajinasi, bisa-bisa pembaca akan menganggap dirinya sebagai Raib dan memiliki sahabat Seli serta Ali yang bertualang ke tempat yang tidak terduga sebelumnya.
Tere Liye selalu berhasil membuat banyak kejutan di novel-novelnya, di novel Matahari kita akan menemukan banyak hal unik. Salah satunya, kita akan menemukan berbagai bentuk simetris, dari mulai bentuk kotanya, bentuk ruangannya, bahkan nama tokoh serta nama tempat di dalam novel ini pun simetris, seperti Faarazaraaf, Restoran Lezazel, Kota Zaramaraz, dan masih banyak hal simetris lainnya yang digambarkan di dalam novel ini.
Sampul novel ini sangat menarik dengan desain yang mendukung isi cerita. Warna merah kecoklatan dengan sebuah gambar pesawat kapsul, dua ekor ular yang terlihat ganas dengan taringnya dan  kelelawar membuat yang calon pembacanya tertarik dan penasaran seperti apa sebenarnya isi dari novel ini.
Saya suka gaya penulisan Tere Liye di semua bukunya. Apa yang kita baca terasa ringan tapi dalam. Setiap kata-katanya juga selalu membuat saya penasaran. Seperti di akhir bab, penulis sering menulis seperti, “kukira semuanya baik-baik saja, tapi aku tidak tahu jika selanjutnya tidak akan semudah ini”, dan jika sudah menemukan kata-kata semacam itu saya tidak bisa berhenti di situ saja, tidak sabar dengan apa yang dimaksud dan langsung membaca bab selanjutnya.-
Kehadiran tokoh pendukung dalam novel Matahari ini juga sangat menunjang jalan cerita menjadi lebih menarik dan seru. Berbeda dengan dua novel sebelumnya, pada novel ini tidak melibatkan Av, Ilo, Miss Selena ataupun tokoh-tokoh lain yang membantu mereka di dua novel sebelumnya, hal ini dikarenakan pada perjalanan mereka kali ini tidak membawa misi apapun seperti halnya pada novel Bumi maupun Bulan. Pada novel Matahari  akan muncul karakter-karakter baru yang belum dikenal sebelumnya—karena memang pada awalnya klan Bintang ini dianggap hanya legenda tanpa tahu benar atau tidak keberadaanya. Beberapa tokoh pendukung yang berpengaruh besar dalam kisah ini misalnya: Faar sang penguasa lembah hijau yang merupakan keturunan langsung klan Bulan, Kaar sang koki terbaik yang juga merupakan keturunan klan Matahari, dan sang panglima pasukan armada klan Bintang, Marsekal Laar. Ketiga tokoh ini diberikan jatah porsi yang pas oleh penulis untuk ikut mendampingi petualangan tiga sahabat ini.
Bukan hanya tokoh pendukung yang mendukung petualangan Raib, Seli dan Ali saja yang tersaji dalam novel ini. Tokoh lawan juga akan muncul untuk memberikan kesan tegang di dalam cerita, dan penulis berhasil melakukannya. Tokoh lawan yang bukan orang biasa ini akan terus membuat perjalanan petualangan mereka semakin seru dan menegangkan. Setiap konflik yang disusun oleh penulis dikemas dengan begitu rapi dan membuat pembacanya gemas dan penasaran dengan kelanjutan cerita, sehingga pembaca terus melesat enggan untuk berhenti, terus mencoba untuk menebak apakah kisah petualangan mereka akan berakhir bahagia dan damai seperti halnya pada novel pertamanya, “Bumi”, atau justru berakhir dengan bercampur kesedihan seperti pada novel keduanya, “Bulan”.
Setiap tulisan yang dibuat manusia pasti memiliki kekurangan, tak terkecuali juga dengan novel ini. Masalah typo di novel ini agak banyak. Dan itu adalah masalah utama saya. Beberapa kali saya tersendat ketika menemukan typo.
“Aku tersenyum tpis. Melihat Ali jengkel kadang menyenangkan.” (Hal 79)
“Saat itulah aku hampir mengatakanny a, tapi lalu mengurungkannya.” (Hal 96)
“Anak itu pastil genius sekali,” Papa berkomentar, saat jeda sebentar.” (Hal 105)
“Tinggal hitangan menit, kami akan tiba di kota Zaramaraz.” (Hal 222)
“Buku matematikmilikmu bisa menjadi senjata terakhir.” (Hal 251)
Seandinya pun gagal, aku akan terus berusaha, lagi, lagi, dan lagi.” (Hal 363)
“Getaran itu melewati tubuku dan Ali begitu saja.” (Hal 367)
Selain kesalahan penulisan, ada juga hal yang agak ganjil, misal tentang tokoh pendukungnya, pasalnya, pada cerita sebelumnya Raib, Seli dan Ali dibantu oleh pihak yang mati-matian berusaha untuk tidak mengeluarkan Si Tanpa Mahkota dari penjara bayangan di bawah banyangan, akan tetapi, pada novel ini, perjalanan mereka bertiga akan dibantu oleh tokoh yang memiliki hubungan langsung dengan pasukan yang hendak membebaskan Si Tanpa Mahkota. Hal ini sedikit banyak akan menimbulkan pertanyaan pada pembaca, tentang ketidakcocokan dengan cerita sebelumnya.
 Terlepas dari kekurangan dalam novel ini, ada banyak sekali kelebihan yang ditawarkan. Seperti biasa, Tere Liye bisa menghadirkan nilai yang mendasar tentang kehidupan (yang biasa kita lupakan) melalui cerita-cerita ringan yang dihadirkan. Ada banyak sekali pesan yang tersirat dari novel Matahari ini yang cocok untuk semua usia. Misalnya saja tentang persahabatan, kesetiakawanan, pengetahuan tentang teknologi, kerja sama, berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, kesetaraan gender dan sampai pada bagaimana kita menyikapi suatu masalah. Semuanya dikemas dengan begitu menarik tanpa ada kesan menggurui.
Dan bukan Tere Liye namanya jika dibuku karangannya tidak terdapat nilai/ilmu yang bisa kita pelajari. Beberapa hal yang bisa kita peroleh di buku Matahari ini antara lain:
Lapisan – lapisan bumi secara sederhana dibagi menjadi tiga. Paling atas disebut dengan lithosphere atau crust ....” , “Lapisan kedua disebut mantle....” , “Lapisan ketiga atau terakhir disebut inti bumi, yang dibagi menjadi dua, outer core dan inti core. ...” (Hal 124 – 125).
“Kebanyakan ular merasakan getaran udara melalui organ yang disebut membran typhani. Ular akan mendeteksi segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan menggunakan lidahnya yang bercabang. Itulah sebabnya mengapa ular sering menjulurkan lidah." (Hal 142)
“Ubur-ubur abadi tidak pernah mati. Ditemukan di Laut Mediterania dan perairan Jepang, ubur-ubur ini bisa bertransformasi, mengubah sel-selnya dari usia dewasa kembali menjadi bayi, begitu seterusnya." (Hal 185)
Luar biasa ya riset yang dilakukan Tere Liye sebelum menulis novel. Riset-riset yang dilakukannya ini membuat kita mendapatkan ilmu baru / mengingatkan kembali ilmu yang sudah kita pelajari, saat membaca novel karangannya. Alhasil, novelnya tidak hanya menghibur, tapi justru menambah pengetahuan kita.
Jika anda merupakan penggemar novel dengan genre fantasi, novel karangan penulis dalam negeri ini patut diperhitungkan. Tingkat imajinasi penulis yang ditawarkan tidak mengecewakan, sanggup bersaing dengan novel fantasi terjemahan yang sudah terlebih dahulu menanjak popularitasnya. Pun jika anda menyukai novel dengan tema persahabatan dan petualangan, novel ini tidak boleh absen dari daftar bacaan anda. Sangat diajurkan untuk membaca mulai dari buku pertama secara berurutan (Bumi-Bulan-Matahari) agar dapat memahami cerita secara keseluruhan dari awal dan bisa ikut merasakan seluruh petualangan yang mengesankan dengan tiga sahabat ini.
Akhirnya, novel ini sangat layak dijadikan salah satu bacaan ringan namun bermakna dalam yang bisa kalian nikmati ketika senja menyentuh ufuk barat, atau mengisi jeda diantara kendaraan kalian, mungkin kereta atau mobil atau bus sepulang kerja. Tak perlu pusing, karena novel ini disajikan tanpa membuat kening mengernyit tak paham.
Sebagus apapun resensi novel ini, tidak akan mampu menyamakan apa yang mampu disuguhkan novel ini dalam setiap kisahnya. Setelah membaca novel ini sampai selesai, mungkin kita akan sampai pada kesimpulan yang sama, tanpa membaca dan merasakannya sendiri kita tidak akan pernah tahu apa yang dirasakan orang lain.
Selamat membaca dan selamat terbawa arus kebaikan hidup.
Bersama halaman-halaman dan ribuan kalimat yang tersusun didalamnya akan kau temui banyak hal yang tidak bisa ditemukan ditempat lain.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Maneken

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa