Hanya Ingin Jadi Orang Baik
Hari ini aku lelah. Hari
ini, aku tiba-tiba saja ingin merenung. Merenungi makna hidupku, merasai
peranku dalam perjalanan sang waktu. Kali ini aku merasa tak lagi berhati. Kali
ini di kepalaku hanya ada obsesi. Obsesi dihargai manusia dan diimbali deretan
angka di rekeningku setiap bulan berganti.
Hari ini aku hanya ingin mengingat. Merindui masa saat aku bercita
sederhana. Menjadi orang baik. Orang yang memberi arti bagi orang lain. Tak
pernah melukai, meski setitik. Tak pernah menyakiti, meski senoktah.
Padahal aku tak pernah ingin berpura-pura dalam hidupku. Aku ingin
menjadi aku. Dengan idealismeku dulu. Menyampaikan apa yang perlu kusampaikan.
Tak perlu menyampaikan kepalsuan. Aku ingin menyampaikan kebenaran. Jika kepalsuan
itu harus disampaikan, semata untuk membuat si palsu terkuak. Aku ingin menjadi
orang baik.
Padahal aku ingin, dengan peranku aku memberi secercah harap.
Seberkas asa. Bagi mereka, Tuhan. Mereka yang dihempas duka, mereka yang
terluka, mereka yang menahan jerit. Meski sekedar uluran tangan. Pelukan
seorang saudara. Sekedar menenangkan. Meski hanya sementara. Menjadi orang
baik.
Padahal, dengan peranku, aku bisa tulus berbagi dengan mereka.
Membiarkan mereka membagi luka, memberi sedikit kehangatan. Dengan ikhlasku,
dengan kerelaanku. Sebagai saudara, sebagai teman, sebagai tempat berbagi.
Menjadi orang baik.
Padahal dengan peranku, aku tak usah berpura-pura. Aku bisa lebih
memaknai senyumku untuk menghadiahkan sedikit bahagia dihati mereka. Dengan simpati
yang tak lagi palsu. Sebenar-benarnya simpati.
Padahal dengan peranku, dengan kelurusan niatku, aku ingin membuat
cerita-ceritaku bermakna. Membuat kisah-kisah dari tanganku dapat merubah
dunia. Membuat manusia lain lebih merasa dan berterimakasih atas takdir mereka
yang lebih. Membuat mereka berlomba menjadi orang baik.
Padahal dengan peranku, aku bisa mengungkap dusta dan mengusir si
durjana. Dengan keteguhan dan keberanianku, aku bisa menghapus kotoran-kotoran
dunia. Menuntut mereka untuk menjadi orang baik.
Wahai Penguasa Dunia, Penguasa Diriku…..
Ampuni aku yang telah menutup hati dan mengebalkan rasa. Ampuni
aku yang tidak memaknai peranku. Aku mencintai peranku, Yang Maha Perkasa. Aku
ingin lelah fisik dan batinku memberi arti, hanya bagiMu, Penulis Skenario
sesungguhnya, bukan sekedar kekaguman para ciptaanmu.
Penguasaku, luruskan langkahku. Untuk menjadi ciptaanmu yang tak
sia-sia. Yang tak terlupa oleh kecantikan fana. Yang tak membuat peranku,
amanahMu, mengantarku pada amarahMu. Yang selalu diingatkan untuk menjadi orang
baik. Seperti cita sederhanaku dulu.
Raja Dunia, tetapkan niatku untuk memaknai setiap detik peranku.
Merasainya, menikmatinya, mensyukurinya sebagai sebuah kepercayaan-Mu padaku.
Kuatkan aku untuk melangkahkan kakiku dan menghargai keringatku dengan harapan
hanya balasan-Mu. Menjadi orang baik.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
beribadah padaKu.” (Adz Dzariyaat:56)
Comments
Post a Comment