IBU, BETAPA BERHARGANYA SIH UNTUK KITA?


P
engamalan eh salah maksud saya pengalaman. Hehe Ya pengalaman adalah guru yang paling baik. Guru yang paling baik yang pernah saya temui, guru yang paling sabar dalam mengajari, guru yang tidak pernah mengeluh dalam mengajarkan kita (apasih). Ya dari pengalaman kita diajarkan caranya terjatuh tapi dari pengamalan itu pula kita diajarkan untuk bangkit setelah terjatuh. Kadang banyak hal kecil yang tanpa kita sadari ternyata sangat berharga untuk sebuah nasihat kehidupan.
          Ya itulah pengalaman. Kok jadi ngelebar kemana” sih yang dibahas, tenang-tenang. Pengalaman itu hampir sama dengan kata yang sering kita dengar yaitu “ibu”. Ya that’s right anda enggak salah baca kok itu memang Ibu.
          Mungkin banyak yang tidak tahu betapa besarnya pengorbanan seorang ibu. Apa yang dilakukan seorang ibu itu pasti dengan penuh keikhlasan untuk memperjuangkan nasib anak-anaknya. Ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Terkadang ia rela tidak makan jika melihat anaknya belum makan, ia rela bekerja keras meskipun menyakiti fisiknya asal melihat anaknya sukses. Apapun akan dilakukan seorang ibu untuk melihat anaknya sukses. Tapi permasalahannya apakah kita sudah mengucapkan terima kasih kepada ibu kita? (silahkan anda renungkan sendiri)
          Seandainya semua anak menyadari bahwa kasih sayang dan pengorbanan ibu itu sudah dimulai sejak kita berada dalam kandungannya sudah pasti dunia ini akan terasa indah. Ingatlah kawan berkat ibu, kita bisa ada di dunia ini. Dan surga kita itu ada dibawah telapak kaki ibu kita. (jangan dicari dibawah telapak kaki pacar kita saya jamin enggak bakalan ketemu tuh surga malah mungkin yang ada neraka) hehe
          Coba inget deh kapan sih kita tidak menelepon ayah ibu kita? Berapa lama kita tidak menghabiskan waktu untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah aktivitas yang padat, kadang kita selalu mempunyai beribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian bahkan mengharapkan kedatangan kita di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar, bisa jadi kita lebih peduli dengan pacar kita. Udah deh enggak usah pada alasan, bener kan argumen saya? Buktinya aja, kita selalu risau akan kabar pacar kita, risau apakah sang pujaan hati sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia berada di samping kita. Namun apakah pernah kita merisaukan kabar dari orang tua kita? Risau apakah hari ini orang tua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Benar kan? Ya kalo benar silahkan direnungkan kembali kalo memang anda tidak begitu saya ucapkan selamat untuk anda karena anda sudah bisa memilah-milah yang mana yang seharusnya anda pikirkan. :D
          Jangan sampai kita kehilangan saat-saat yang akan kita dirindukan di masa yang akan datang, ketika ibu telah tiada. Taka da lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita, taka da lagi senyuman indah tanda bahagia. Yang ada hanyalah kamar kosong tanpa penghuni. Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya. Tak kan pernah ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu, tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit. Dan tak akan pernah ada lagi yang meneteskan air mata mendoakanmu di setiap hembusan napasnya.
          Kembalilah segera, peluklah ibu yang selalu menyayangimu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya. Berdoalah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta kasih sayangnya jangan biarkan kita menyesal.
          Oh iya lupa mungkin kita selalu berhitung dengan apa-apa yang kita kasih ke orang tua kita terutama ke ibu kita tapi apakah ibu kita pernah berhitung apa yang dikasih ke kita? Dari semenjak kita berada di dalam kandungan, kasih sayangnya, cinta sejatinya, air susunya apa mereka pernah berhitung habisnya berapa untuk membiayai kita selama hidup ini? Tentu tidak kawan, mereka melakukan itu dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Bahkan kalau sekalipun ibu kita meminta bayaran sudah pasti kita tidak akan bisa membayarnya bahkan dengan isi dunia sekalipun.
          Semoga kita selalu menghargai pengorbanan ibu kita. Jangan sampai ibu kita menangis dan mengeluarkan sumpah yang diijabah oleh Allah Swt. karena melihat anak-anaknya tidak menghargainya, bahkan tidak memerhatikannya lagi.


Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Maneken

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa

Resensi "Matahari" - Tere Liye