Resensi "The Puppeteer" - Jostein Gaarder
“Kepada Agnes. Aku telah berjanji untuk menuliskan kabar kepadamu.
Ingatkah? Setidaknya aku akan mencoba.” - Jakop Jacobsen, halaman 9.
Kutipan di atas merupakan kalimat awal yang dapat kita temukan
dalam buku The Puppeteer. Seperti yang dapat kita perkirakan, cerita dalam buku ini hadir karena niatan Jakop, panggilan akrab Jakop Jacobsen yang ditunjukkan kepada Agnes.
Jakop, sesuai dengan sinopsis yang tertera di cover belakang buku merupakan pria dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun, Jakop memiliki hobi yang unik apabila kita bandingkan dengan kehidupan orang lain. Dia memiliki hobi untuk datang ke pemakaman orang lain. Bahkan, konyolnya lagi adalah dia mengunjungi pemakaman yang dia sendiri tidak tahu siapakah yang meninggal dan dia tidak memiliki ikatan darah apa pun dengan orang tersebut.
Jakop, sesuai dengan sinopsis yang tertera di cover belakang buku merupakan pria dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun, Jakop memiliki hobi yang unik apabila kita bandingkan dengan kehidupan orang lain. Dia memiliki hobi untuk datang ke pemakaman orang lain. Bahkan, konyolnya lagi adalah dia mengunjungi pemakaman yang dia sendiri tidak tahu siapakah yang meninggal dan dia tidak memiliki ikatan darah apa pun dengan orang tersebut.
Dalam buku ini, Jakop bercerita kalau dia beberapa kali
mengunjungi pemakaman yang nantinya akan mengantarnya untuk bertemu dengan
Agnes. Dimulai dari kematian Erik, yang mempunyai tiga orang anak dan salah
satu anaknya ternyata berkerabat dengan Agnes. Hingga kematian seorang teman
lama bernama Jon-Jon.
Biasanya, walaupun Jakop tidak kenal dengan orang yang akan
dimakamkan, dia akan meriset terlebih dahulu orang tersebut. Lalu, dengan hasil
risetnya dia akan duduk bersama keluarga yang ditinggalkan dan menjelaskan
kepada mereka bagaimana dia dan almarhum berkenalan. Sangat menarik memang.
Dengan hobinya tersebut, Jakop pun turut sedih seperti keluarga
yang ditinggalkan. Dia pun banyak memetik pelajaran tentang kisah keluarga
tersebut. Seperti kisah Runar, Jakop memetik pelajaran kalau bagaimana pun
saudaramu atau keluargamu, seharusnya kita tidak meninggalkan dan menjauhinya.
Hal ini dikarenakan pada dasarnya kita pun akan merasa sepi kalau sering
sendirian dan membutuhkan dukungan keluarga.
Dalam buku ini pun dikisahkan bahwa Jakop memiliki teman dekat
bernama Pelle. Terkadang juga, Jakop memperkenalkan dirinya dengan nama Pelle
kepada orang-orang yang baru dia temui. Pelle, atau Mister Skrindo digambarkan
lebih cerdas dibandingkan Jakop. Pelle pun sering berdebat tentang asal muasal
kata kepada Jakop.
Berbicara tentang perdebatan antara Pelle dan Jakop, saya merasa
Jostein tak lupa memberikan aspek latar belakangnya dengan ciamik. Dia
terkadang menuliskan perdebatan atau penjelasan Jakop tentang asal muasal kata
yang dalam buku ini tertulis berasal dari rumpun bahasa Jerman. Sentuhan
Norwegia dalam buku ini dapat dikatakan masih terasa.
Sayangnya, saya terkejut mendapatkan fakta bahwa Pelle ternyata
boneka. Kita dapat dipastikan tertipu sampai penjelasan itu dijelaskan dengan
detail di bab “Pelle”. Kita pun akhirnya dapat merasakan emosi yang dialami
Jakop dengan istrinya. Kalau kita memihak Jakop, kita pasti akan berpendapat
bermain dengan boneka sampai sudah dewasa pun tidak masalah. Akan tetapi,
apabila kita memihak kepada istri Jakop tentunya kita merasa Jakop sudah
memalukan dirinya. Akibatnya, dapat kita tafsirkan bahwa istri Jakop ternyata
malu mempunyai suami seperti Jakop dan akhirnya mereka berpisah.
“Kebersamaan” antara Jakop dan Pelle pun ternyata ada sebabnya.
Ini berkaitan dengan masa lalu keluarga Jakop. Jakop ternyata tidak mempunyai
kakak dan adik. Dia pun telah ditinggalkan oleh ayahnya dan dia sudah lama tinggal
dengan ibunya. Karena kebersamaan yang kurang atas keluarga, dia pun sering
menghabiskan waktu dan berbagi kisah dengan Pelle. Sayangnya, hal ini pun
membuat dia menjadi korban risak.
Pada akhirnya, kita akan setuju bahwa buku ini memiliki kisah filosofis
tentang makna keluarga. Bagaimana seorang Jakop sebagai tokoh utama dengan
hobinya akan mendapatkan nilai-nilai kekeluargaan dari keluarga seseorang yang
dimakamkan.
Testimoni-testimoni di cover pun turut membantu pembaca nantinya
dalam memahami isi buku ini. Pertama, penjelasan bahwa buku ini berkisah
tentang kesendirian pun dapat kita rasakan melalui tokoh Jakop. Lalu, bagaimana
caranya hidup pun ternyata dimaknai berbeda oleh Jakop maupun orang-orang yang
sudah meninggal.
Sayangnya, buku ini pun memiliki kelemahannya. Pembahasan asal
muasal sebuah kata pun ternyata tidak memiliki peran yang penting dalam bahasan
buku ini. Pembahasan itu hanya menjadi patokan dalam mengantar Jakop bertemu
dengan beberapa orang. Kita mungkin agak terganggu dengan pembahasan asal
muasal kata yang terkesan dipaksakan dalam beberapa halaman buku ini.
Lalu, akhir buku ini pun agak kurang jelas. Apakah Agnes nantinya
menikah dengan Jakop? Atau Jakop akan terus mengagumi diam-diam Agnes dan tidak
akan ke pemakaman lagi? Selanjutnya, pemunculan orang berkulit hitam yang
selalu ada ketika Jakop berkunjung ke suatu pemakaman pun ternyata tidak
memberikan hal yang amat penting di buku ini.
Namun, buku ini tetap layak dibaca. Apalagi bagi penggemar
karya-karya dari Jostein Gaarder. Buku ini pun lumayan untuk kita yang ingin
merenungi pemaknaan keluarga secara filosofis. Walaupun pada akhirnya terdapat
beberapa kisah bohongan dalam buku ini, tetapi kita akan tetap mendapatkan
makna tentang keluarga yang secara menarik dikisahkan oleh Jostein melalui
karakter utamanya, Jakop Jacobsen.

makasih reviewnya, smoga berkembang terus......
ReplyDeletebtw lagunya bikin baper ^_^