Resensi Novel Maneken
Resensi Novel Maneken
Judul Novel : Maneken
Penulis : SJ. Munkian
Editor :
Triana Rahmawati
Penerbit : Mahaka Publishing
Tahun Terbit : 2015
Penerbit : Mahaka Publishing
Tahun Terbit : 2015
Tempat Terbit : Jakarta
Tebal : x + 181 Halaman
Tebal : x + 181 Halaman
Dalam
sejarah kehidupan di dunia, benda mati hampir selalu tidak dihiraukan. Tidak
ada yang mau repot-repot memikirkan perasaan benda mati, apalagi memerhatikan
kebutuhannya. Kau bahkan tak pernah tahu kan, bahwa maneken bernama Claudy—yang
bekerja keras di etalase terdepan toko busana Medilon Shakespeare—mempunyai
perasaan. Mimpi-mimpinya dilambungkan untuk kemudian dihempaskan lagi hingga
hanya bisa bergantung pada nasib dan keajaiban. Ya, keajaiban.
Novel
ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang
tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi.
Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatmu
semakin mengerti, betapa kami, aku dan Claudy, iri kepada kalian.
***
Banyak cara yang dapat dilakukan
oleh sepasang kekasih untuk saling mengekspresikan rasa cinta kepada
pasangannya. Namun, apa jadinya ketika cinta tersebut dirasakan oleh sepasang
maneken yang merupakan benda mati? Pernahkah kalian membayangkan benda mati yang ada di
sekitar kita ternyata bisa memiliki perasaan, layaknya kita sebagai makhluk
hidup?
Cinta itu kini hadir dalam hidup
Claudia, maneken cantik yang selalu menghiasi etalase utama toko Medilon
Shakespeare di Inggris, parasnya
sangat cantik dan menawan, dia akan menjadi sorotan utama ketika orang-orang
membeli busana di sana.
Yang tak diduga Claudia, di tengah
kesendiriannya mengisi etalase utama yang
menghadap ke Capulatte Cafe itu, sesosok maneken pria dari Prancis kemudian
hadir dan akan disandingkan dengannya untuk menghiasi etalase
utama. Nama maneken itu Fereli. Pada mulanya Claudia tak menyangka jika kehadiran
maneken tampan tersebut akan menjadi awal dari petualangan hidupnya yang
mendebarkan.
Di awal kedatangan maneken Fereli, Claudia
merasa tidak senang karena merasa Fereli telah mengambil tempat Claudia
bernaung. Pasalnya, sang pemilik toko, Sophie, sempat menyatakan bahwa etelase
utama tersebut selamanya akan menjadi milik Claudia seorang.
Merasa
terancam karena ada saingan, sikap Claudia kepada Fereli tidaklah bersahabat, namun Fereli bisa memahami dan dia malah suka
sekali menggoda Claudia, membuat suasana menjadi tidak canggung, terlebih Fereli melatih Claudia berbahasa Prancis,
dia bilang maneken bisa berbahasa apa saja karena mereka bisa belajar. Hubungan
mereka semakin dekat ketika konsep yang dihadirkan Sophie adalah menjadikan
mereka sepasang kekasih, dengan balutan busana yang dijamin akan langsung laris
dibeli pengunjung yang melihatnya.
Lama menghabiskan waktu bersama
membuat benih cinta tumbuh diantara kedua maneken unggulan Medilon Shakespeare
ini. Akan tetapi, keraguan perasaan cinta tersebut sempat timbul ketika
mengetahui bahwa konsep pasangan maneken Claudia dan Fereli hanyalah cerminan dari hubungan antara Sophie
dan kekasihnya yang berasal dari Prancis, Bailey Fereli.
Fakta bahwa selama ini Claudia dan
Fereli digunakan sebagai maneken untuk
merefleksikan hubungan Sophie dan Bailey ternyata tak memadamkan api cinta
Claudia dan Fereli . Di etalase utama yang menjadi rumah mereka, Claudia dan
Fereli kemudian menyatakan perasaan
cinta mereka dengan cara yang bisa dilakukan oleh maneken.
Kisah cinta Claudia dan Fereli yang diharapkan bahagia selamanya seperti
dalam dongeng ternyata tak pernah terjadi. Meski keduanya saling menyambut
perasaan cinta, Claudia dan Fereli
terpaksa harus berpisah. Perpisahan yang menyayat hati tersebut bermula
ketika Bailey memutuskan hubungan secara sepihak dengan Sophie.
Sophie yang melihat sosok Bailey
pada maneken Fereli merasa tidak tahan. Dengan kemarahan yang masih membara,
Sophie kemudian memutuskan untuk membuang dan membakar maneken Fereli tanpa
mengetahui bahwa tindakannya membuat sepasang kekasih maneken harus terpisah,
mungkin untuk selamanya.
Kekuatan cinta yang terjalin antara
Claudia dan Fereli tentu membuat kedua
maneken ini ingin memperjuangkan cinta mereka sekuat tenaga dalam kebisuan
mereka sebagai benda mati. Tak ingin berakhir sia-sia dilahap api, kekuatan
cinta Fereli membuatnya berupaya untuk bisa kembali ke sisi maneken cantik yang
ia cintai, Claudia.
***
Novel
ini menyajikan sudut pandang kebendaan
yang selama saya membaca novel, jarang sekali dikupas. Kita akan diajak
berpikir dan bertindak seperti maneken. Betapa seharusnya kita malu sebagai
manusia namun tak juga punya rasa manusiawi. Kita diajak menelisik sudut
pandang yang berbeda. Memberikan gambaran sederhana akan arti dan “perasaan”
benda-benda disekitar kita. Sebuah imajinasi dari penulis yang mengagumkan
bukan?
Maneken
diceritakan dari sudut pandang Claudia sebagai "aku" pada awalnya,
hingga di pertengahan sudut pandang mulai berganti-ganti antara Claudia dan
Fereli. Menarik sekali menyaksikan apa yang dirasakan kedua maneken ini
terhadap para manusia baik yang ada di dalam toko maupun di luar toko.
Dari bab demi bab, cerita
begitu mengalir sederhana dan mudah dimengerti. Seakan-akan kita adalah benda
mati itu sendiri. Benda mati yang ditiupkan ruh sehingga memiliki nalar. Ini menjadi keunikan novel ini.
Sudut pandang benda mati dan kemudian digambarkan hidup. Mampu berkomunikasi
dengan satu sama lain dan memiliki perasaan.
Perjalanan memperjuangkan cinta yang
dilakukan sepasang maneken dalam novel karya SJ. Munkian ini seakan membuat
para pembaca ikut merasakan debaran cinta yang dirasakan oleh Claudia dan
Fereli , meski mereka tak memiliki jantung. Semakin banyak halaman yang dibaca
semakin dalam pula perasaan cinta kedua maneken tak berdaya ini akan dirasakan
oleh pembaca.
Penempatan konflik dalam novel
Maneken juga dilakukan dengan baik oleh SJ. Munkian sehingga klimaks dari novel
ini dapat membuat pembaca ikut terenyuh dan terbawa dalam cerita. Konflik cinta yang dihadirkan cukup
menguras emosi. Betapa sakitnya jika kita harus berpisah dengan orang yang kita cintai. Kita akan
diajak menyelami kesengsaraan batiniah yang dialami sepasang sejoli tersebut.
Perjuangan mereka dalam meraih cinta sejati disematkan apik. Saya
berandai-andai jika novel ini difilmkan. Rasanya penasaran melihat setiap
adegan dalam novel ini divisualisasikan.
Kekuatan dari novel Maneken ini
sendiri terdapat pada tema fantasinya yang tidak biasa, namun disaat yang sama
memiliki korelasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat pembaca akan
dengan mudah ikut larut secara emosional dalam cerita meski kedua tokoh utama
dalam Maneken merupakan benda mati yang dikenal tidak memiliki perasaan.
Pembaca pun akan dikenalkan dengan beberapa kemampuan unik maneken yang tak
pernah diketahui oleh manusia sebelumnya.
Keajaiban-keajaiban cinta yang di hadirkan novel ini
mengantarkan kita pada satu keniscayaan bahwa tak ada yang mustahil di kolong
langit ini. Bahwa doa-doa suci dan harapan-harapan tulus akan berwujud dengan
caranya masing-masing. Bahwa yang kita rencanakan tak melulu berhasil, tapi bukan
berarti Tuhan kurang sayang kepada umatnya. Dia tahu mana yang terbaik untuk
kita.
Tokoh-tokoh
yang dihadirkan memberi gambaran tentang beberapa karakter manusia. Penggambaran
tokoh Claudia dan Fereli cukup bertolak belakang. Claudia adalah maneken
perempuan yang sedikit egois dan "kosong", saya nggak menemukan
"isi" yang bulat dalam karakter Claudia. Selain bahwa dia penuh mimpi
dan romantis. Sementara Fereli adalah maneken pria yang sabar dan tabah.
Tokoh
manusia yang karakternya cukup menonjol di sini adalah Sophie, si pemilik toko.
Sophie karakter yang keras dan disiplin. Dia juga nggak segan menegur
orang-orang yang tindakannya nggak sesuai dengan kemauannya. Tipe perempuan
yang jika di dunia nyata bakal saya jauhi dan nggak mau berurusan dengannya. Ia mengingatkan saya pada realitas
orang-orang disekitar saya yang kerap begitu ambisius tanpa memerdulikan
kebahagiaan orang lain. Betapa banyaknya orang yang menyingkirkan orang / benda
untuk kebahagiaan dan egonya masing-masing. Ada satu kalimat yang tetap
terngiang dibenak saya setelah membaca novel ini yaitu : Pada akhirnya aku mengetahui bahwa sebenarnya manusia tak tercipta dari
segumpal darah saja. Lebih dari itu, manusia juga tercipta dari kumparan ego
paling murni yang bisa-bisa tak tertahankan.
Alurnya
yang gurih disajikan dengan gaya bahasa yang khas. Kalian akan banyak menemukan
sajak-sajak yang puitis namun tidak berlebihan. Jalinan kisahnya lumayan runut.
Beberapa kemustahilan dijelaskan dengan argumen sehingga menjadi lebih masuk
akal. Alur cerita yang menarik juga dilengkapi dengan
berbagai pemilihan kata yang menarik dan cocok untuk digaris bawahi oleh para
penggemar kalimat-kalimat indah yang tidak gombal apalagi pasaran.
Yang
menarik perhatian saya pertama kali saat membuka novel ini adalah susunan
daftar isi. Dalam daftar itu terdapat judul-judul bab yang semuanya merupakan
kata pasif semacam; Dinamai, Diletakkan, Diperlihatkan,
dan ada juga Dipertemukan. Semula saya masih nggak mengerti mengapa kata
pasif yang digunakan sebagai judul, tapi karena tokoh utama novel ini adalah
benda mati, atau sebuah obyek, barulah saya merasa betapa tepatnya judul bab
yang digunakan.
Di
antara semua tokoh dalam Maneken, justru Sophie-lah yang pengkarakterannya
lebih kuat dan lumayan bulat. Sedangkan dialog antar tokoh dalam novel ini
masih terasa kaku, masih banyak dialog basa-basi dan emosinya masih encer.
Kurang pekat dan kurang chemistry. Ini
bisa jadi disebabkan oleh diksi yang terlalu manis dan filosofis. Sering kali
bahasanya terasa kurang simple.
Saya
cukup menikmati novel ini dan merekomendasikan Maneken bagi penggemar novel
genre fantasi yang menginginkan membaca cerita
yang unik. Setidaknya novel ini mengajarkan untuk lebih menghargai benda mati
dan nggak melampiaskan kesalahan dan kekesalan pada benda mati.
Hanya
saja ada beberapa hal yang mengganjal dari hati saya yang rapuh ini. Alurnya
yang kadang dirasa terlalu cepat. Mungkin karena saya terbiasa membaca novel
yang tebal halamannya lebih dari 300an, sehingga ketika dihadapkan pada novel
yang hanya kurang dari 200an halaman ini rasanya kurang puas. Saya melihat
masih banyak poin-poin dalam novel ini yang bisa dikembangkan. Dan dapat
dijadikan bab tersendiri.
Ada
beberapa typo terutama pada penggunaan partikel -pun yang seharusnya
dipisah seperti "apa pun" dan "siapa pun" ditulis
menyambung. Juga ada beberapa kesalahan tata kalimat. Tapi tetap enak dibaca
dan nggak terlalu mengganggu.
Etapi, jika saja boleh
mengungkapkan. Ada satu kekurangan mendasar dari novel ini. Apa itu? Adalah
ilustrasi sampul di setiap bab. Sungguh tidak logis. Untuk apa menempatkan
sebuah boneka anak-anak yang duduk di kursi sedangkan ceritanya sendiri adalah
sepasang maneken dewasa?
***
Kepiawaian SJ. Munkian untuk meracik
novel terbitan Mahaka Publishing ini membuat Maneken dapat menjadi bahan bacaan
yang ringan sekaligus berbobot. Selain itu, kehadiran Maneken dengan tema unik
bernuansa budaya Inggris dan Prancis tentu membuat novel ini membawa kesegaran
tersendiri dalam dunia literasi Indonesia, khususnya bagi para pembacanya.
Buku
ini seperti ingin berpesan kepada pembaca kalau benda mati pun tanpa kita
ketahui bisa saja memiliki perasaan, mereka juga memiliki hati yang bisa
terluka, jadi, jangan kejam-kejam ya, rawatlah mereka dengan baik :D
Akhirnya,
novel ini sangat layak dijadikan salah satu bacaan ringan namun bermakna dalam
yang bisa kalian nikmati ketika senja menyentuh ufuk barat, atau mengisi jeda
diantara kendaraan kalian, mungkin kereta atau mobil atau bus sepulang kerja.
Tak perlu pusing, karena novel ini disajikan tanpa membuat kening mengerenyit
tak paham.
Penasaran
kan ? makanya. Cepat deh beli dan dibaca novel kece melalang buana ini. Gaya
bahasanya yang mengurai manja. Alurnya yang bak nyiur melambai di pulau kelapa
dan ratusan kata puitik nan romantis siap mengguncang dan mengembangkan fantasi
anda tentang keajaiban cinta.
Sebagus apapun resensi novel ini tidak akan mampu menyamakan apa yang mampu
disuguhkan novel ini dalam setiap kisahnya. Setelah membaca novel ini sampai selesai, mungkin
kita akan sampai pada kesimpulan yang sama, tanpa membaca dan merasakannya sendiri
kita tidak akan pernah tau apa yang dirasakan orang lain.
Selamat membaca dan selamat terbawa arus kebaikan hidup.
Bersama halaman-halaman dan ribuan kalimat yang tersusun didalamnya akan
kau temui banyak hal yang tidak bisa ditemukan ditempat lain.


Comments
Post a Comment