Resensi "Kereta Api Terakhir Dari Paris" - Mira W


Sinopsis:
Cinta mereka yang bersemi sejak SMA begitu murni.
Namun alam seolah berkolusi memisahkan mereka. Petaka dan cobaan silih berganti menerjang.
Sahabat yang senantiasa dibela dari perundungan sejak SMA membuat malam pesta bujangannya berubah menjadi malapetaka.
Pelarian, pengkhianatan bahkan kecelakaan dan pembunuhan meronai kisah cinta mereka. Namun sedahsyat apa pun guncangan, cinta mereka tetap tegak sekokoh Menara Eiffel.
“Rasanya aku tidak bisa membawamu ke depan Menara Eiffel untuk memperbarui sumpah kita, Sayang.”
“Tak ada yang perlu disesali. Karena setiap kali kita bersama, itulah Menara Eiffel kita.”
***
Kisah ini berawal dari masa SMA, Arif menjadi bahan bullyan teman-temanya. Setiap hari Arif diejek oleh Teddy dan kawan-kawannya, sampai-sampai Arif takut untuk pergi ke sekolah. Namun, Andhika sahabat Arif selalu membela dan membatu Arif saat ia dibully oleh Teddy. Arif menyukai gadis bernama Aster, wanita yang berparas cantik jelita. Tapi, nasib berkata lain kepada Arif. Sayangnya Aster adalah milik Andhika sahabatnya sendiri, ia hanya bisa memendam perasaan itu dalam-dalam. Terkadang Andhika dan Aster merasa iba dengan keadaan Arif yang seperti itu. Arif juga mempunyai tekanan batin, karena ayahnya yang selalu menuntut Arif untuk menjadi laki-laki tangguh.
Saat mereka telah lulus SMA, Andhika melanjutkan studynya di Amsterdam sedangkan Aster kuliah kedokteran di Jakarta begitu juga Arif. Saat itu Aster meminta izin kepada kedua orangtuanya dan juga orangtua Andhika untuk mengantar calon suaminya ke Amsterdam. Akhirnya mereka pergi ke Amsterdam, namun mereka berdua malah transit di Paris. Mereka ingin menggunakan kesempatan ini untuk bermesra-mesraan. Karena hanya berdua saja, mereka memesan hotel satu ranjang dan puncaknya mereka terbuai oleh suasana cinta dan melakukan hubungan sebelum mereka resmi menjadi suami istri.
Mereka akhirnya meninggalkan Paris dan menuju stasiun Charles de Gaulle untuk melanjutkan perjalan ke Amsterdam. Perpisahan telah tiba Aster sangat sedih, tapi Andhika berjanji kepada Aster akan menikahinya setelah ia menyelesaikan studynya di Amsterdam. Aster kembali ke Indonesia membawa perasaan sedih.
Dengan perasaan tegang dan perkataan yang terbata-bata Arif mengajak Aster nonton ke bioskop. Aster agak terkejut, tapi ia tidak menolak ajakan Arif karena ia iba. Mereka berduapun akhirnya menonton, seusai menonton film di bioskop Arif mengajak Aster minum, dengan ibanya iapun mau menerima ajakan Arif.
Kejadian yang tak terduga, Aster memberanikan diri untuk mengatakan kepada kedua orangtuanya bahwa ia telah hamil. Orangtuanya terkejut, dan segera meminta Andhika calon suaminya untuk menikahi putrinya. Dari sinilah peristiwa itu terjadi, Andhika, Arif, Teddy, Kurnia terlena dalam pesta bujangannya Andhika. Tiba-tiba Andhika terlibat perkelahian dengan Teddy karena Teddy telah menghajar habis-habisan Arif. Tentu saja Andhika sahabat Arif langsung bergegas membela Arif, walaupun keadaan mereka berdua mabuk berat karena alcohol.
Arif yang menjadi satu-satunya saksi mata, melihat Teddy telah mati dibunuh oleh Andhika. Andhika sangat syok dan tidak percaya, karena mereka sama-sama dalam keadaan mabuk. Akhirnya Arif bertindak, ia menyarankan sahabatnya untuk kabur ke Amsterdam agar ia tidak di tangkap polisi. Andhika menyetujui saran Arif begitupula Aster, dengan berat hati Andhika menyerahkan Aster kepada Arif untuk menikinya dan orangtua merekapun menyetujuinya walaupun mereka tidak menyukai akan hal itu.
Ario buah cinta dari Andhika dan Aster telah lahir ke dunia. Arif menganggap Ario sebagai anaknya sendiri dan ia sangat menyayangi Ario layaknya anak kandung. Meskipun ibu Arif tidak suka terhadap Aster dan anaknya, tapi Arif tetap menyayangi mereka berdua. Setelah empat tahun menikah dengan Arif, Aster menuai kecurigaan terhadap Arif. Segeralah bergegas ia menemui Andhika di Amsterdam, karena Aster menemukan pisau berlumuran darah dilemari Arif dan ternyata kecurigaan Aster benar bahwa Arif lah yang telah membunuh Teddy. Aster sempat tidak percanya, namun sudah ada bukti yang nyata. Ia tetap diam supaya Arif tidak curiga terhadapnya.
Andhika menerima pesan dari Aster bahwa ia akan ke Amsterdam dengan Ario. Andhika sangat senang dengan kabar itu, ia mempersiapkan segalanya untuk menjemput Aster. Namun, nasib buruk menimpa Andhika, ia dirampok saat akan menjemput Aster dan Rio di Paris. Saat itu Andhika dilarikan ke rumah sakit dan ia menderita amnesia. Orangtua mereka berdua segera bergegas menyusul anaknya ke Paris, karena mereka sudah sangat khawatir dengan keadaan Andhika. Aster sangat terpukul akan kejadian itu, akhirnya iapun menetap di Amsterdam bersama anaknya dan suaminya Andhika. Dengan sabarnya Aster menuntun Andhika agar ia dapat mengingat kembali akan memorinya dan bisa segera membongkar kedok Arif yang telah menuduh Andhika karena membunuh Teddy.
Arif pun berusaha mencari Aster dan Rio, sampai-sampai ia mengancam lewat surrel akan melapor ke polisi jika Aster tidak kembali ke Indonesia. Saat itu Aster sangat bingung dan ketakutan, sampai akhirnya ia sudah membuat keputusan akan kembali ke Indonesia supaya Andhika tidak dilaporkan karena ia juga masih amnesia. Saat itu Aster ingin berlibur ke Paris untuk bernostalgia mengulang 13 tahun yang lalu dengan Andhika.
Saat Arster dan Rio tiba di Indonesia, ia langsung menuju rumah Arif. Dengan amat marahnya Arif menganiaya Aster yang saat itu juga Rio melihat kelakuan Arif yang menganiaya ibunya. Ario pun marah dan memukul Arif, tapi Arif diam saja karena yang sedang ia hadapi adalah anak yang disayanginya. Aster berbincang dengan Arif membicarakan tentang pembunuhan Teddy, sontak Arif marah dan terkejut. Tak disangka Arif telah memasukkan obat bius kedalam minuman Aster dan Rio, mereka pun telah meminum minumannya dan akhirnya mereka tidak sadarkan diri. Dibawanya Aster ke kamar dan mengurungnya disana, sedangkan Arif menitipkan Rio kepada ibunya.
Setelah sehari Aster mininggalkan Andhika, akhirnya ingatannya sudah pulih sepertinya ia telah menemui keajaiban yang kuar biasa. Segeralah ia menyusul Aster dan Rio ke Indonesia, tetapi saat tiba di Indonesia Andhika tidak berjumpa dengan istrinya dan Aster tidak dapat dihubungi. Lalu ia menemuinya di rumah sakit tempat Arif bekerja, tapi Arif tidak mau mengatakan dimana anak dan istrinya disembunyikan. Akhirnya Andhika membuntuti Arif kemana ia pergi, supaya ia bisa menemukan anak dan istrinya.
Saat Rio hendak kabur dari rumah ibunya Arif, musibah telah menimpanya ia mengalami kecelakaan. Sontak hal tersebut membuat Arif dan Andhika terkejut dan sangat cemas. Arif segera membawa anaknya ke rumah sakit, dan ia sanagt terpukul dengan kejadian itu. Apalagi Aster, sejak kejadian itu ia sangat membenci Arif. Rio membutuhkan donor paru-paru, dan Arif sangat bersedia mendonorkan paru-parunya karena golongan darahnya cocok dengan Rio. Hal itu membuat Aster curiga, dengan menyesal Aster menanyakan hal tersebut kepada Arif. Ternyata benar Rio anak kandung Arif, tapi hal itu tidak membuat cinta Andhika terhadap anak dan istrinya tersebut.
Saat Ario akan diberangkatkan ke Melbourne untuk operasi cangkok, Arif mengalami kecelakaan yang mengharuskan ia meninggalkan dunia untuk selamanya. Tapi itulah jalan yang dipilih Arif, karena hanya dengan kondisi mati ia dapat mendonorkan kedua paru-parunya kepada anaknya. Sebelum meninggalkan anak dan istrinya, Arif sudah terlebih dahulu meminta maaf kepada semuanya. Rio sudah pulih dan menetap di Indonesia bersama kedua orangtuanya yang sangat menyayanginya. Dengan ibanya Aster mengatakan kepada Rio yang berusia 14 tahun, bahwa Arif adalah ayah kandungnya dan ia selalu menceritakan kebaikan-kebaikan Arif kedapa Rio. Saat ini hanya itu yang bisa dilakukan Aster untuk Arif. Dengan penuh penyesalan Andhika dan Aster tidak bisa memperbarui sumpah cintanya di depan Menara Eifel, dan mungkin kereta api yang mereka tumpangi di stasiun Charles de Gaulle adalah kereta api terakhir bagi mereka. Sekarang mereka hidup dalam kenagan-kenangan masalalu yang mereka rasa sangat bahagia.
Novel karangan Mira W ini sangat menarik, karena jalan ceritanya yang sangat menegangkan, mudah dipahami, dan ketika membacanya pun ikut terbawa suasana. Bahasa yang digunakan pengarang juga mudah dipahami dan kata-katanya menjadi unik. Untuk cover novel, desainnya bagus dan itulah salah satu faktor yang menarik perhatian pembeli.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa

Resensi Novel Maneken

Resensi "Matahari" - Tere Liye