Resensi "Jangan Ucapkan Cinta dan Bukan Cinta Sesaat" - Mira W
Blurb:
Jangan Ucapkan Cinta
mengungkapkan dua naluri dasar manusia, cinta dan benci, yang hidup
berdampingan seperti dua sisi mata uang. Ketika cinta kilat yang lahir hanya
dari daya tarik fisik menjelma menjadi pengkhianatan, cinta pun bermetamorfosis
menjadi kebencian.
Depresi menyeretnya ke ruang kerja seorang
psikiater. Tetapi psikoterapi tidak menyembuhkan depresinya. Justru mengubahnya
menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Sosok kejam yang siap membalas dendam.
Namun tiga belas tahun kemudian, tatkala dia
berhasil menghancurkan karier suaminya dan menyeret perempuan yang menggodanya
ke rumah sakit jiwa, muncul orang keempat yang tidak disangka-sangka.
Ternyata kelainan jiwa bukan hanya milik
pasien....
Bukan Cinta Sesaat
mengisahkan dua anak manusia yang berasal dari dua kultur yang berbeda. Tetapi
dilahirkan di bumi yang sama. Dibesarkan di tanah air yang satu.
Dua puluh tujuh tahun mereka menjalin cinta,
menantang berbagai kendala yang merintangi.
Guru, orangtua, bahkan lingkungan menentang
cinta mereka. Akhirnya maut pun ikut membayang-bayangi dalam dua kali percobaan
pembunuhan yang misterius.
Masihkah cinta mereka abadi? Bukan hanya
cinta sesaat?
***
Jangan
Ucapkan Cinta bercerita tentang Niken. Hidupnya baik-baik saja,
bahkan bisa dibilang nyaris sempurna. Dia sedang mempersiapkan pernikahan saat
dia bertemu dengan Aldi. Aldi sangatlah berbeda dengan Bambang, tunangan Niken.
Bersama dengan Aldi, Niken merasakan debaran tiap kali bertemu. Niken jatuh
cinta pada Aldi dan akhirnya meninggalkan Bambang.
Tak
butuh waktu lama buat Aldi untuk meminang Niken. dr. Eko, bos Niken yang juga
adalah adik dari Aldi, sudah memperingatkannya untuk menjauhi Aldi. Tapi Niken
tetap memilih Aldi.
Sayangnya,
ternyata Aldi masih belum sepenuhnya mencintai Niken. Di saat Niken sedang
mengandung, Aldi memilih lari dengan cinta masa remajanya. Dan ternyata
penderitaan Niken tidak berhenti sampai di situ.
Niken
akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan walau dia merasa sudah mati. Dan saat
itulah, orang-orang yang dia harapkan sudah mati muncul kembali dalam hidupnya.
Namun, benarkah dia menginginkan mereka mati?
Bukan
Cinta Sesaat berfokus pada kisah cinta Nina dan Rio. Cerita
dibuka dengan investigasi kasus pembunuhan yang terjadi di rumah Nina. Seorang
pengacara tewas dengan luka tusukan di dada, sementara Nina sebagai saksi kunci
ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka parah di bagian kepala.
Nina
mengalami amnesia. Dia bahkan tidak mengingat Rio, yang setiap hari selalu
menemaninya. Rio tidak menyerah, dia berusaha menceritakan kembali kisahnya
dengan Nina. Tentu dengan harapan itu akan memulihkan ingatan Nina.
Pembaca
pun diajak menyimak kisah cinta Nina dan Rio yang penuh dengan drama. Keduanya
saling peduli sejak masih kecil. Sayang saja, isu rasial yang masih sangat
mengemuka di zaman mereka harus menjadi penghalang. Yang memperparah semua itu
adalah keduanya sama-sama memiliki sifat keras kepala. Kesalahpahaman terus
terjadi karena keduanya terlalu sibuk menduga-duga, sakit hati lalu gak mau
baikan. Duh, gemes, serius!
Awalnya
saya tidak mengerti kenapa Jangan Ucapkan Cinta digabungkan dengan Bukan Cinta
Sesaat. Soalnya jadi tebal banget dan kurang nyaman untuk dibawa kemana-mana. Setelah selesai membaca keduanya, saya jadi
mengerti bahwa ada benang merah di antara kedua cerita tersebut.
Pertama,
tentang cinta di masa lalu yang berujung pada perselingkuhan. Ada cinta
masa lalu yang sekadar obsesi, ada pula cinta masa lalu yang memang benar cinta
sejati. Semuanya akan teruji oleh waktu.
Kedua,
tentang istri yang tidak dicintai karena sang suami masih gagal move-on. Saya
salut dengan cinta yang dimiliki para istri di kedua cerita tersebut.
Ketiga,
tentang pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang tak terduga. Salah satu
ciri khas Mira W. yang membuat saya selalu ketagihan membaca bukunya. Kita
mungkin bisa menduga siapa yang jahat, tapi bagaimana dia bisa melakukan
kejahatannya seringkali tidak terduga. Pokoknya, keren!
Keempat,
tentang pengorbanan harga diri demi cinta. Ada harga diri yang dipertaruhkan,
tapi mereka rela melakukannya karena cinta. Yah, bisa juga sih karena rasa
bersalah yang terlalu besar.
Secara
keseluruhan, bumbu drama yang ada di dalam cerita ini sangatlah kental tapi
sekaligus adiktif sehingga tebalnya buku pun tak lagi terasa begitu kita larut
dalam ceritanya.
Secara keseluruhan
aku menyukai jalan cerita pada novel ini. Bahwa setiap perbuatan itu pasti ada
pembalasannya. Itu yang aku dapatkan dari baca cerita yang pertama. Sebagai
pihak ketiga dari pernikahan Aldi dan Niken, kisah hidup Indah berakhir tragis.
Cinta memang terkadang membutakan seseorang. Hingga tidak sadar sudah melanggar
norma dalam masyarakat. Bukankah menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan
tidak dibenarkan dalam masyarakat kita, apapun alasannya. Apalagi jika sudah
merambah pada lembaga perkawinan. Sosok Niken yang harus hidup sendiri karena
ditinggal suami yang kabur dengan wanita lain, tentu sudah banyak contoh yang
terjadi dalam masyarakat kita. Jadi, pembaca yang punya pengalaman hubungan
yang rusak gara-gara cinta pertama pasangan, saya sarankan bisa membaca novel
ini. Karena bisa membuat anda terbawa suasana. Hehehe.
Jika dalam cerita
pertama, kisah cinta pertama yang malah bikin suatu pernikahan hancur, maka
pada cerita kedua “Bukan Cinta Sesaat” justru membuktikan
bahwa First Love Never Ending. Percayalah, jika anda termasuk dari
golongan ini, dimana pasangan anda sekarang merupakan cinta pertama anda dan
sekarang sudah menjadi suami/istri, anda termasuk orang yang beruntung. Karena
di luar sana, ada banyak yang tak bisa memiliki cinta pertamanya karena
terhalang takdir (Eh, bahasanya kok jadi gini ya…hehehe). Seperti Rio yang
terus mencintai Fenina, atau Sri yang terus mencintai Rio. Pada cerita ini
memang membuktikan bahwa cinta tak memandang kultur. Siapapun bisa saja terkena
panah asmara (Kayak lagunya Afgan ya. Hihihi).
Jika melihat dari
cerita dalam novel ini, sebaiknya tidak dibaca pada anak dibawah umur. Bukannya
apa-apa, tema ceritanya tentang kisah cinta orang dewasa. Apalagi
latarnya tentang pernikahan. Takutnya jika anak-anak membaca akan jadi
pembenaran suatu saat kelak bahwa menjadi orang ketiga itu sah-sah saja atas
nama cinta. Bukankah apa yang kita baca itu bisa berpengaruh pada pemikiran
kita. Jadi aku rasa emang novel ini memang ditujukan untuk orang dewasa. Karena
orang dewasa diharapkan bisa melihat sisi lain dari cinta itu sendiri.

Comments
Post a Comment