Resensi "Dunia Anna" - Jostein Gaarder
“Nova
sayang, aku tak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini…”
Bumi 2082,
Nova sangat terkejut saat tiba-tiba di terminal online-nya muncul surat dari
nenek buyutnya, Anna. Surat yang ditulis 70 tahun yang lalu, tepat tanggal 12.12.12.
Tepat saat nenek buyutya berusia 16 tahun seperti Nova saat ini.
Sungguh
misterius, bagaimana mungkin 70 tahun lalu, nenek buyutnya sudah tahu bahwa
kelak cicitnya bernama Nova? Dan dari mana nenek buyutnya tahu tentang
keresahan-keresahan Nova? Tentang bumi yang sudah tak seindah dulu lagi,
tentang spesies yang punah, tanah-tanah yang tenggelam, kutub-kutub yang
meleleh. Dan, benarkah cincin rubi merah dari legenda Aladin, menjadi kunci
untuk mengembalikan keseimbangan bumi? Cincin yang selama ini melingkar di jari
Anna, nenek buyutnya?
***
Buku
ini hampir serupa dengan Dunia Sophie. Baik itu dari judulnya, sampulnya, sampai
ke-ilmu-an yang diangkatnya. Namun, bedanya ini lebih tipis, lebih murah (xD) ,
berbeda tokoh, dan berbeda pula cerita yang perlu di bahas dalam novel ini.
Meskipun
tipis, namun buku ini mempunyai isi yang lebih dari cukup. Bahkan, buku-buku
seperti ini nagih. Gaya kalimatnya remaja banget, jadi memang Jostein Gaarder
merancang buku ini untuk semua kalangan.
Mengenai
tema, buku ini mengambil tema Filsafat
Alam Semesta. Tentunya pembahasan tidak akan jauh-jauh dari bumi,
isinya, beserta alam.
Buku ini
menceritakan Anna, seorang gadis kecil yang berumur hampir 16 tahun di dua hari
lagi. Anna dengan umur yang bisa dibilang mau menginjak fase remaja,
digambarkan terlalu peka akan hal-hal yang seharusnya tidak menjadi tanggung
jawabnya. Dia terlalu peka dengan apa itu yang disebut dengan pemanasan global,
energi terbarukan, kepunahan flora dan fauna, serta cara menanggulanginya.
Akibat ke-terlalu-peka-annya dengan
lingkungan sekitar dalam skala yang terlalu besar, ibunya sampai harus
membujuknya dengan salah satu psikiater berbakat di kota Oslo. Tapi Anna
senang, bahkan bahagia. Karena dari percakapan dan konsultasinya dengan Dokter
Benjamin tersebut-lah, dunia Anna benar-benar dimulai dan akan merubahmu.
Digambarkan
oleh Jostein Gaarder, Anna merupakan sosok gadis yang menjalani proses
kedewasaannya berbeda dengan yang lain. Anna mempunyai kelebihan, dimana dia
mempunyai salah satu 'penglihatan' dan fantasi-fantasi yang liar.
Dimana, dia sering juga mendapati dirinya bermimpi menjadi seekor gajah,
sebatang tangkai, dan seseorang yang sebelumnya tak pernah ia kenal. Secara
garis besar, Anna adalah sosok gadis yang suka berimajinasi. Dan hebatnya lagi,
Anna bisa berinteraksi dengan imajinasinya sendiri tanpa harus takut dan merasa
aneh. Anna menikmati itu. Dan dari anugerah aneh itu lah, kita sesungguhnya
harus belajar lebih banyak darinya.
Di
novel tersebut, Anna dibenturkan dengan dunia paralel yang selama ini
kita sangat menyangsikan untuk mengakui keberadaannya. Karena pada dasarnya,
dunia tersebut belum ada penelitian yang lebih lanjut. Beberapa orang normal
lainnya tidak akan mempercayai tentang eksistensi dunia paralel seperti di
dongeng-dongeng dan film-film tersebut. Namun dalam novel ini, Anna benar-benar
dibenturkan oleh ke-eksistensi-an dunia paralel tersebut. Suatu saat
di hari sebelum ulang tahunnya yang ke-16, dia bermimpi berada di 70 tahun yang
akan datang. Dan Anna sendiri tidak sebagai Anna, melainkan sebagai Nova, gadis
kecil seumurannya kini, dengan kemampuan yang sama, mencari pembenaran dan
solusi untuk bumi yang semakin tua dan kehilangan potret mudanya.
Seperti
itulah sedikit potret tentang Anna yang digambarkan di novel tersebut.
Sedikit absurd memang, namun memang itulah yang membuat pembaca
seperti saya menjadi penasaran dan tak akan berhenti membaca sampai akhirnya
bertemu titik di halaman terakhir.
Secara
garis besar, novel ini mengambil konsentrasi tentang bagaimana keresahan Anna
terhadap buminya yang di tiap tahun selalu berganti wajah. Anna menjadi saksi
hidup di mana pohon-pohon di buminya itu berkurang seiring berjalannya waktu.
Di mana kumbang-kumbang yang membantu proses penyemaian alami tiba-tiba pudar
sampai akhirnya penyemaian tersebut dilakukan manual oleh manusia. Anna punya
kelebihan tersebut, dan tak hanya sadar, dia juga mengkritisi
perubahan-perubahan bentuk bumi itu dengan cara memikirkan cara-cara yang bisa
dia lakukan agar bumi tetap eksis. Dia bekerja sama dengan pacarnya, Dokter
Benjamin, dan anak perempuannya.
Di
lintas dunia yang lainnya, yakni Nova kecil, juga sedemikian konsennya dengan
perubahan wajah dunia. Dia suatu saat bertemu dengan seorang pemuda Arab yang
terpaksa harus mengungsi karena negaranya sudah menjadi gurun dan tak bisa
ditinggali lagi. Betapa ironinya, negara Arab dengan kekayaannya yang begitu
melimpah, harus ikhlas untuk menjadi gurun lagi.
Kedua
dunia itu, dunia Anna maupun dunia Nova, mempunyai titik tumpuh permasalahan
yang sama. Yakni kesalahan manusia yang tidak bisa merawat buminya baik-baik.
Ada beberapa penebangan pohon yang dengan suka cita dilakukan hanya untuk
terlihat maju dan sejahtera. Kegagalan mengendalikan penggunaan bahan bakar
minyak yang secara tidak kita sadari telah merobek lapisan-lapisan atmosfer
yang tentunya sudah kita ketahui, bahwa sekali lapisan tersebut robek, itu
tidak akan bisa kembali seperti semula, walau pun upaya apa saja yang kita
lakukan untuk mengurangi kerusakan tersebut.
Ini
merupakan massalah yang klasik, yang semua orang akan dengan biasa menanggapi
masalah yang seharusnya bisa mengusik waktu tidurnya ini. Syukurlah, ini hanya
sebuah cerita novel, yang tentunya fiksi dari seorang Jostein Gaarder, seorang
novelis filsafat yang juga konsen bergerak di bidang kelestarian alam. Namun
sayangnya, cerita ini tidak benar-benar fiksi. Cerita ini nyata. Dan celakanya,
ini bisa saja terjadi bagi kita jika kita tidak langsung berbenah.
Topik
ini sangat berbanding lurus dengan gambaran kehidupan saat ini. Dimana manusia
modern seakan selalu lapar akan teknologi dan uang. Sampai akhirnya, kelaparan
itu menjadikan manusia modern rakus dan haus akan dua kemungkinan tersebut.
Lantas apa yang berdampak pada kerakusan tersebut? Bumi kita. Bumi kita yang
semula indah ini, yang semula hijau ini tiba-tiba berubah warna menjadi hitam
pekat. Asap di mana-mana, polusi apalagi. Pembebasan lahan seakan begitu
mudahnya dilakukan tanpa kita memikirkan bahwa tidak hanya kita yang hidup di
bumi ini. Masih ada dan banyak sekali makhluk-makhluk yang seharusnya merasakan
kelangsungan hidup di bumi ini secara bersama-sama dalam menikmati
keindahannya. Namun akibat kerakusan itulah, yang mereka klaim sebagai bukti
kemajuan peradaban, mereka rela bahkan tega untuk membantai segala makhluk
kecuali manusia. Dan apakah kalian pernah berpikir, setelah tidak ada mahkluk
yang dibantai, mereka yang haus dan lapar itu akan membantai apa lagi?
Melihat
dunia ini semakin berubah wajahnya, tentunya kita sebagai generasi milenia akan
sedih. Dan berpikir, anak turun kita nanti akan menikmati apa? Apakah akan kita
warisi dunia tanpa pohon? Gurun gersang tanpa rumah? Atau laut hitam karena
pengeboran di mana-mana? Tentunya tidak, dan Jostein Gaarder menuliskan segala
keresahannya dalam sebuah novel yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.
Berbagai
gambaran yang dikemukakan Jostein Gaarder dalam novel ini seakan semuanya akan
terjadi. Terlalu jelas untuk hanya sebuah novel fiksi. Dan terlalu munafik
untuk kita, tentunya pembaca, yang tidak merinding ketika membaca novel ini.
Jostein
Gaarder saat ini, bisa saya bayangkan sedang menunggu kita untuk bergerak
melalui aksi nyata. Mungkin dia akan tetap menyangkul sendirian sampai dia
benar-benar kalah akan mesin pemotong pohon? Atau dia akan kita bantu dengan
aksi yang benar-benar nyata untuk melestarikan alam ini?
Jika
pikiran kita tersebuka, tentu Jostein Gaarder tidak akan menyuruh semua pembaca
untuk berprofesi sebagai petani atau gardener. Saya bisa menebak, Jostein
Gaarder menunggu kita di bidang kita masing-masing. Untuk yang bergerak di bidang
pemerintahan, berilah kemanfaatan atas pekerjaanmu dengan membuat aturan-aturan
yang bisa memberikan kelangsungan hidup. Begitu pula untuk kalian yang sebagai
arsitek, berikan sedikit ilmumu untuk pohon-pohon yang ingin tumbuh di
bidang-bidang tanah melalui tangan cerdikmu. Dan untuk kalian yang apapun itu
profesinya, Jostein Gaarder menunggu kalian untuk bergerak secara nyata merawat
bumi ini. Seperti saya yang sebagai blogger, saya menulis ini untuk merangsang
kalian agar bersinergi membangun bumi masa depan yang lebih baik. Tidak melulu
tentang bumi yang berskala luas, cukup dengan menanam pohon di sekitar rumahmu,
itu sudah lebih dari cukup mendeskripsikan aksi nyata dalam penghijauan.
Jostein
Gaarder, adalah seorang novelis yang menyalurkan hidupnya tidak hanya untuk
menulis kemudian mendapat royalti. Namun dia juga bergerak dalam menjaga
kelestarian alam. Setelah saya selesai membaca novel ini, saya sedikit bisa
menyimpulkan bahwa tujuan Jostein Gaarder dalam menulis novel ini hanya satu,
yakni memastikan anak keturunannya kelak bisa merasakan oksigen dan menginjak
tanah kurang lebih sama seperti apa yang dia dan kita rasakan saat ini.
Novel
ini sebuah novel renungan. Namun tidak hanya untuk kita renungkan.

Comments
Post a Comment