Resensi "The Magic Library" - Jostein Gaarder
Pembaca yang baik,
Buku di tangan Anda ini benar-benar unik. Susah menggambarkan
isinya. Tapi, kira-kira seperti ini.
Dua
saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk
berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan
saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi
Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi
menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu
berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia
perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini
dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.
Buku
ini juga berisi cerita detektif, cerita misteri, perburuan harta karun,
petualangan ala Lima Sekawan. Astrid Lindgren, Ibsen. Klasifikasi Desimal
Dewey, Winnie The Pooh, Anne Frank, kisah cinta, korespondensi, teori sastra,
teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, drama, film perpustakaan,
penerbitan, humor, dan konspirasi.
***
“Namun, pada saat itu aku pun tahu
bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit.
Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu
dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku
sendiri menjadi lebih besar dan luas.” (hlm 238)
Alkisah, hiduplah dua saudara sepupu,
Nils (cowok) dan Berit (cewek), yang tinggal di dua kota berbeda: Fjaerland dan
Oslo. Seusai menikmati liburan musim panas bersama, mereka memutuskan untuk
tetap berhubungan dengan cara saling berkirim surat. Cara yang mereka pilih
cukup unik, karena alih-alih mengirim surat dengan kertas biasa, mereka memilih
menulis dalam sebuah buku yang mereka kirimkan bolak-balik Oslo dan Fjaerland.
Awalnya Nils mengira isi surat mereka akan membosankan, karena liburan musim
panas sudah usai. Ternyata ia keliru. Semua berawal saat Nils mengungkit-ungkit
tentang wanita misterius yang mengintip puisi yang sedang mereka tulis di buku
tamu sewaktu berlibur bersama di Pondok Flatbre.
Suatu ketika Berit memungut sepucuk
surat yang terjatuh dari tas si wanita misterius. Dari surat itu terungkap
bahwa wanita itu bernama Bibbi Bokken, seorang bibliografer. Surat itu juga
menyebut-nyebut soal buku yang akan terbit tahun depan, padahal buku tersebut
belum ditulis, bahkan belum diketahui siapa penulisnya. Judul buku itu adalah
"perpustakaan ajaib". Hal ini mengundang rasa ingin tahu kedua
saudara sepupu tersebut. Maka, mereka pun mulai melakukan penyelidikan (kalau
tidak mau dibilang ‘bermain detektif-detektifan') untuk mencari tahu siapa
sebenarnya Bibbi Bokken.
Semakin lama penyelidikan mereka
semakin menarik. Apakah benar Bibbi Bokken seorang penyelundup buku? Di mana
letak perpustakaan ajaib Bibbi Bokken? Belum lagi menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan itu, muncul sesosok pria yang mereka juluki “Smiley” yang
tampaknya sedang memata-matai mereka. Mereka curiga lelaki itu adalah kaki
tangan Bibbi Bokken. Keadaan menjadi semakin serius, karena Bibbi Bokken dan
Mr. Smiley rupanya mengincar buku-surat milik Nils dan Berit.
Buku ini terdiri dari dua bagian. Pada
bagian pertama, yang menurut saya cukup unik, yaitu berisi surat-menyurat
antara Nils dan Berit. Melalui surat-surat inilah kita mengetahui petualangan
dan penyelidikan yang dilakukan oleh masing-masing anak ini. Saat keadaan
menjadi lebih serius, Nils dan Berit akhirnya memutuskan untuk bertemu dan bersama-sama
mencoba memecahkan misteri tentang Bibbi Bokken dan perpustakaan
ajaibnya—itulah akhir dari bagian pertama. Pada bagian kedua, setelah pertemuan
Nilss dan Berit, kita akan membaca buku ini seperti novel konvensional pada
umumnya.
Sangat seru membaca buku ini. Rasaya
seperti membaca kisah-kisah detektif cilik. Tapi lebih dari itu, buku ini kaya
akan informasi tentang dunia perbukuan. Banyak istilah-istilah perbukuan yang
muncul dalam buku ini, mulai dari istilah yang umum seperti bibliografer dan
bibliophile, sampai istilah yang belum pernah saya dengar sebelumnya, misalnya
incabulla dan Klasifikasi Desimal Dewey. Tak hanya itu, dalam buku yang tidak
terlalu tebal ini, kita akan menemukan banyak contoh karya sastra seperti
puisi, cerpen, drama, hingga teori menulis. Dalam surat-surat Nils-Berit kita
juga akan sering menemukan nama-nama penulis tenar serta judul-judul buku terkenal
yang membuat saya ingin membacanya. Singkatnya, buku ini ingin mengajak kita
untuk lebih mencintai dunia perbukuan! Tak berlebihan jika mengatakan buku ini
adalah bacaan wajib para pencinta buku sejati. :)
Tapi entah mengapa bagian awal buku ini
terasa agak sedikit membosankan bagi saya. Untungnya semakin ke belakang
ceritanya semakin seru. Bagian paling menarik dari buku ini tentu saja adalah
endingnya, saat semua pertanyaan terjawab sudah: tentang Bibbi Bokken,
perpustakaan ajaib, tentang Mr. “Smiley” serta segudang pertanyaan lain yang
sempat membuat penasaran.

Comments
Post a Comment