Resensi "HUJAN" - Tere Liye

Judul           : HUJAN
Penulis         : Tere Liye
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan       : III, Januari 2016
Tebal           : 320 hlm; 20 cm

“Apa yang hendak kamu lupakan, Lail?”
“Aku ingin melupakan hujan.”—hal 9
Jika sekadar membaca sinopsisnya yang hanya sepuluh kata, kita mungkin akan mengira bahwa novel Hujan karya Tere Liye ini adalah karya fiksi dengan latar kehidupan sehari-hari. Saya pun awalnya mengira bahwa novel ini akan klise-klise saja dengan menganngkat kisah yang sudah jamak diceritakan: persahabatan dua orang laki-laki dan perempuan yang merumit akibat keterlibatan perasaan. Saya juga secara spontan mengasosiasikan Hujan dengan novel pendahulunya—Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.
Tetapi tidak. Novel Hujan secara mengejutkan mengambil latar dunia di tahun 2050-an, dengan segala kemajuan teknologi dan gentingnya isu-isu mengenai lingkungan.
Cerita dimulai dari pertemuan Lail dan Elijah di sebuah ruangan terapi—ruang operasi saraf otak, lebih tepatnya—yang dideskripsikan memiliki atmosfer nan futuristic. Lail dengan sesak dan tangis yang tertahan, menemui Elijah sang fasilitator terapi untuk satu tujuan: ingin menghapus ingatannya tentang hujan.
Mengapa? Karena hujan selalu turun di masa-masa tergelap Lail dalam beberapa tahun terakhir—sampai ia sendiri tidak tahan. Padahal sebelumnya, hujan jamak turun pada saat-saat tercerahnya.
Bagaimana bisa? Dan kita dibawa mundur kepada kejadian delapan tahun silam, tepatnya ke tanggal 21 Mei 2042, saat bayi ke sepuluh milyar baru lahir ke dunia. Saat itu, ketika dunia dihadapkan pada isu pertambahan penduduk yang semakin mengeksponensial dan seakan tak bisa dibendung, ketika dunia sedang mencari jalan keluar atas luar biasa banyaknya orang-orang di bumi dan krisis yang menyertainya, tiba-tiba alam menyediakan solusi tersendiri.
Siklus itu datang, sebuah gunung purba meletus dahsyat dengan suara letusan terdengar hingga 10.000 kilometer dan menghancurkan apa saja dalam radius ribuan kilometer. Letusan yang lebih hebat dibandingkan letusan Gunung Tambora dan Gunung Toba puluhan ribu tahun silam itu secara efektif dan signifikan berhasil mengurangi jumlah penduduk dunia hanya dalam hitungan menit.
Lail yang saat itu berusia tiga belas tahun, dalam hari yang tak terlupakan oleh dunia, mendadak sebatang kara dan kehilangan orang tuanya. Tetapi, takdir membawanya kepada Esok, bocah lelaki berusia lima belas tahun yang menyelamatkannya dari reruntuhan tangga kereta api bawah tanah. Bocah lelaki spesial yang kelak akan menjadi sangat penting dalam hidupnya.
Waktu berjalan cepat. Di bawah stratosfer yang rusak, diantara semrawutnya KTT Perubahan Iklim Dunia, Lail tumbuh dewasa sambil menerka-nerka kemana ujung kisahnya bermuara.
Sejak saat itulah, memori Lail tentang hujan, tentang kebahagiaan, tentang perpisahan, dan juga segala unsur tentang kesedihan, berkelindan menjadi benang kusut yang membingungkan dan membuat sesak. Sampai-sampai Lail dengan nekatnya datang ke Pusat Terapi Saraf. Berharap paramedis dapat menghapus ingatannya tentang hujan—tentang Esok.
Ya, terutama ingatannya tentang Esok.
***
Novel setebal 320 halaman ini cukup ringan dengan alur bercerita yang sangat mengalir sehingga dapat diselesaikan dalam beberapa jam saja. Penceritaan interaksi Lail dan Esok, serta beberapa tokoh sentral lain seperti Maryam sang sahabat, Ibu Suri pengurus panti sosial, maupun Bapak dan Ibu Walikota, terasa sangat alami sehingga saya betah untuk terus mengikuti. Beberapa adegan yang terasa sinematik memang mengingatkan saya kepada beberapa judul film Hollywood yang mengambil tema akhir dunia. Tetapi toh saya tetap menikmatinya.
Kisah romansa Lail dan Esok yang sangat bersimpulan dengan isu-isu penting dunia berhasil dibawakan dengan apik, terkupas satu per satu dengan ritme yang tepat. Membuat saya ikut berdegup, untuk kemudian lega, untuk kemudian kembali menjadi semakin khawatir. Khawatir jika kondisi bumi dalam cerita tersebut menjadi lebih buruk lagi. Khawatir jika Lail dan Esok akan seperti arti namanya: pagi dan malam. Tak pernah bersama.
Membaca novel ini di penghujung pekan yang memasuki musim penghujan adalah hal yang menyenangkan. Jika pun ada yang harus dikritik, kritik saya hanyalah karena Hujan kurang mengelaborasi karakter Esok lebih dalam.
Selamat tenggelam dalam Hujan!
“Urusan perasaan ini, sejak zaman prasejarah hingga bumi hampir punah, tetap saja demikian polanya.”—hal 172

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Maneken

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa

Resensi "Matahari" - Tere Liye