Resensi "PULANG"
Judul :
PULANG
Penulis :
Tere Liye
Penerbit :
Repubika Penerbit
Cetakan :
IV, Oktober 2015
Tebal :
iv + 400 hal
ISBN :
978-602-0822-12-9
“Aku tahu sekarang,
lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih
banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”
Sebuah kisah tentang perjalanan pulang,
melalui pertarungan demi pertarungan untuk memeluk erat semua kebencian dan
rasa sakit.
***
Membaca novel, ibarat kita berpetualang
memasuki jalan kehidupan orang lain, termasuk mengecap suka dan duka yang turut
mewarnai. Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan situasi, menghubungkan satu
peristiwa dengan peristiwa lainnya dalam jalinan apik yang terikat satu sama
lain akan membuat kita betah untuk terus menyimaknya. Bom atom yang diletakkan
oleh penulis di beberapa tempat menjadikannya sangat seru dan menyegarkan. Di
sisi lain, novel ini juga bertabur hikmah dan pesan bijak yang terbungkus amat
rapi dalam setiap peristiwa, sehingga kita mendapatkan berbagai pencerahan
darinya.
“Jika setiap manusia memiliki lima emosi,
yaitu bahagia, sedih, takut, jijik dan kemarahan, aku hanya memiliki empat
emosi. Aku tidak punya rasa takut.” – Hal 1
Bujang, begitulah Tere Liye menyebutkan
nama sosok “Aku” dalam novel ini. Lahir di pedalaman Pulau Sumatera, tinggal
bersama Bapak dan Mamaknya. Satu hal yang perlu diingat adalah, Bujang tidak
pernah mengenyam bangku sekolah formal. Tetapi, Midah—Mamak Bujang—dengan tekun
mengajari anaknya belajar membaca dan berhitung. Tak lupa ia mengajari Bujang
mengaji, adzan dan shalat. Namun, tiap kali Bujang ketahuan belajar agama, maka
Bujang selalu dipukuli habis-habisan oleh Samad—Bapak Bujang.
Sejak pagi, kampung tanah kelahiran Bujang
ramai, karena dua bulan lagi ladang padi tadah hujan mereka akan panen. Di pagi
itu juga mereka akan kedatangan rombongan dari Kota Provinsi, mereka adalah
Tauke Muda yang merupakan saudara angkat Bapak Bujang beserta dua belas
rekannya yang akan memburu babi hutan yang sudah menyulitkan warga. Babi itu
banyak dan menyerbu ladang. Jika tidak diatasi, maka ladang padi yang susah
payah dirawat bisa rusak. Dalam misi ini, Tauke Muda mengajak
Bujang untuk bergabung bersamanya, dan Samad pun mengizinkan. Dengan
bersenjatakan tombak milik bapaknya, Bujang pun ikut berburu bersama Tauke dan
rombongan.
Saat perburuan babi hutan sudah berada
di puncaknya, di tengah hujan lebat di pedalaman rimba Sumatera yang berselimut
lumut nan gelap, saat itulah ketakutan Bujang akan apapun telah hilang. Bujang
benar-benar sudah melupakan pesan Mamak. Ia dengan membabi buta menyerang Raja
Babi Hutan yang ukurannya sebesar sapi dewasa demi menyelamatkan Tauke Muda
yang sudah terdesak. Sejak saat itu Bujang tidak lagi mengenal rasa takut.
Setelah perburuan selesai, Bujang ikut
ke kota bersama Tauke Muda. Itu sudah menjadi perjanjian antara Tauke Muda
dengan Samad. Benarlah, Bujang begitu tertarik dengan dunia luar, sehingga
Bujang tak berpikir panjang dan langsung mengiyakan ajakan Tauke, juga
Bapaknya. Namun tidak dengan Mamaknya. Meski demikian, pada akhirnya Mamak
luluh dan mengikhlaskan Bujang pergi dengan rombongan Tauke.
Bersama Tauke Muda, Bujang dibawa ke
Kota Provinsi dan menjadi anak angkatnya. Kawan pertama Bujang bernama Basyir,
pemuda keturunan Arab. Yang mengidolakan sosok suku Bedouin di salah satu
negara Timur Tengah. Di keluarga tersebut, Basyir mendapat tugas sebagai tukang
pukul. Setiap hari, Basyir menceritakan aksinya kepada Bujang. Bujang pun
menginginkan posisi tukang pukul di keluarga Tong. Ia pun meminta kepada Tauke
Besar. Akan tetapi Tauke Besar menolaknya. Dia justru menyuruh Bujang untuk
sekolah dan belajar.
Keluarga Tong adalah salah satu
keluarga penguasa shadow economy. Mereka bukan mafia, triad dan yakuza
atau apapun itu. Di rumah besar keluarga Tong, hanya Bujanglah yang disekolahkan.
Awalnya Bujang menolak. Tapi setelah kalah dalam ritual amok, test untuk
menjadi tukang pukul dan hanya boleh menggunakan tangan kosong. Bujang pun
akhirnya mau belajar. Frans adalah guru pribadinya yang direkrut dari Amerika.
Selain sekolah, Bujang juga belajar
menjadi tukang pukul. Kopong lah yang mengajarinya. Kopong juga mencarikan guru
untuk melatih kemampuan bela dirinya. Guru pertama bernama Guru Bushi yang
mengajari Bujang menggunakan jurus-jurus ninja, samurai dan sebagainya. Sayangnya tidak lama kemudian, Guru Bushi
harus pulang ke negara asalnya karena anaknya meninggal dunia dan meninggalkan
dua putri kembar. Sebelum pulang Guru Bushi mengajari Bujang tentang filosofi
samurai.
Sepulangnya Guru Bushi ke Jepang.
Kopong mencarikan guru lagi, yaitu Guru Salonga, sniper terbaik se-Asia. Pun
filosofi tentang pistol ia ajarkan pada Bujang, seperti Guru Bushi yang juga
mengajarinya filosofi samurai.
Bujang telah menyelesaikan kuliahnya
lebih cepat dibanding siapapun. Skripsinya pun mendapat nilai sempurna. Tauke
Besar merayakan kelulusannya dan acara jamuan itu berlangsung menyenangkan.
Meja panjang dipenuhi tawa. Tapi kebahagiaan sepanjang hari itu hilang bagai
pasir disiram air hingga tak berbekas. Tauke menyerahkan sepucuk surat kepada Bujang.
Surat itu ditulis bapaknya diatas kertas kusam. Bujang membacanya dengan suara
tercekat. Ternyata Mamak telah pergi.
Bujang masih sedih atas kepergian
Mamaknya. Ia tidak pernah keluar kamar. Tauke menawarkan Bujang agar pulang ke
desa untuk menziarahi makam Mamak dan mengunjungi Bapak, tapi Bujang
menolaknya. Tauke juga mengizinkan Bujang untuk berlibur tapi ia tetap tidak
mau. Sebulan Bujang tidak pernah keluar kamar. Tiba-tiba pelayan datang dan
menyampaikan bahwa Tauke ingin bertemu. Ada kabar gembira untuk Bujang, Tauke
meminta Bujang untuk pergi ke Tokyo karena Guru Bushi mengundangnya untuk
melanjutkan latihan selama 6 bulan. Kepergian Bujang dibarengi dengan kepergian
Basyir ke Timur Tengah selama tiga tahun untuk belajar dengan suku Bedouin.
Setelah itu Tauke meminta Bujang untuk pergi ke Amerika untuk melanjutnya
kuliahnya.
Di akhir tahun ketiga, Bujang berhasil
menyelesaikan seluruh pendidikan dan memperoleh dua gelar master. Tauke pun
merayakan kelulusannya seperti pada saat Bujang lulus dulu. Jamuan itu
berlangsung sangat menyenangkan. Tapi Bujang keliru. Masih ada yang bisa
mengubur semua rasa bahagianya. Pukul setengah empat, pintu kamarnya diketuk.
Ternyata Tauke datang bersama Kopong memberikan sepucuk surat. Bujang tiba-tiba
teringat kejadian beberapa tahun silam. Tangan Bujang bergegas membuka lipatan
kertas kusam, Bujang mengenali tulisan diatasnya. Ya, itu surat dari Bapak, yang
ditulis sebelum Bapak meninggal dan ia menitipkannya kepada warga desa untuk
mengirimkan surat itu kepada Bujang jika dia telah meninggal. Demi membaca
surat itu, Bujang menunduk, dan menangis dalam senyap. Sayangnya ini bukan
mimpi, Bapak memang telah tiada.
Bujang tumbuh menjadi pemuda yang
pintar dan kuat fisiknya. Ia pun menjadi tukang pukul nomor satu di keluarga
Tong. Dia menyelesaikan banyak masalah demi masalah, hingga tiba saatnya sang
pengkhianat keluar dan memicu peperangan.
***
Banyak sekali peristiwa-peristiwa
mencenangkan di akhir-akhir novel ini. Kita terkadang bisa histeris menonton
film aksi atau film horror. Dapat dipastikan bahwa episode Lantai Dua Puluh
Lima—hal 365 akan membuat kalian histeris dan deg-degan bukan kepalang. Tidak
bisa berhenti membaca setiap lembar demi lembar untuk menemukan ending
ceritanya. Jika kalian telah selesai membaca
novel ini, maka kalian akan tahu filosofi dari gambar sunrise (matahari
terbit) dengan motif seakan-akan terkelupas di cover novel ini.
Out of expectation
sebenarnya. Aku kira novel Pulang ini ceritanya bakalan berkisar tentang
romantisme yang berbalut tragedi. Tapi ternyata tidak, Pulang malah menyuguhkan
sesuatu yang lain dari seorang Tere Liye. Bagi yang pernah membaca Negeri Para
Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk mungkin tidak akan kaget. Tokoh Bujang
justru mengingatkanku pada Thomas, yang hampir memiliki kesamaan. Genius, kuat
dan licik. Siapa sangka novel ini bercerita tentang kehidupan keluarga besar
mafia, penuh dengan pertempuran dan juga membahas tentang shadow economy.
Aksi menegangkan dimulai ketika Bujang
yang menjadi wakil dari keluarga Tong diundang Master Dragon untuk berkumpul
dengan semua perwakilan keluarga shadow economy dari beberapa Negara.
Dalam kesempatannya itu, Bujang mengumumkan bahwa keluarga Lin telah mencuri prototype
alat pemindai kesehatan keluarga Tong. Bujang memaksa keluarga Lin untuk
mengakui dan mengembalikan alat tersebut.
Keesokkan harinya, Bujang mendapat
surat dari keluarga Lin. Pesannya hanya meminta Bujang datang ke markas besar
mereka. Seperti yang Bujang duga, mereka terlalu pengecut untuk bertemu di tempat
lain. Benteng kasino adalah satu-satunya pilihan teraman bagi mereka. Maka dari
itu Bujang berinisiatif untuk membuat “Tim Terbaik” – Hal 107. Terdiri dari
White yang merupakan putra Frans dan berprofesi sebagai anggota bersenjata
seperti TNI untuk Amerika. Bujang juga mengajak Yuki & Kiko, si kembar yang
merupakan cucu Guru Bushi, mereka adalah ninja wanita terbaik yang diajarkan
langsung oleh kakeknya. Mereka juga pencuri kawakan yang berhasil mengambil
patung naga emas dari museum di Singapura.
Bujang tiba di Grand Lisabon Kasino dan
langsung naik ke lantai 40. Setibanya di ruang meditasi Tuan Lin, Bujang
diperiksa tidak boleh membawa barang tajam kedalam ruangan. Hanya kartu nama
yang Bujang bawa. Ya, secara kasat mata itu hanya kertas, tapi tukang pukul
keliru. Didalam kartu nama itu, pipih dengan tebal hanya sepersekian millimeter
adalah logam titanium. Saat kartu itu dilemparkan dengan kekuatan penuh, kertas
kecil itu bisa menjadi senjata mematikan. Benar saja, kartu nama itu sudah
terbenam separuhnya di leher Tuan Lin. Tuan Lin tidak berubah dari tempat
duduknya—masih dalam posisi meditasi, hanya saja darah merembes dari lehernya.
Dengan cepat, Bujang langsung mengambil alat pemindai kesehatan itu dan pergi
sebelum tukang pukul keluarga Lin menyadarinya.
Setelah mereka berhasil
mengambil alat pemindai kesehatan, putera tertua dari keluarga Lin dendam
karena ayahnya meninggal ditangan Bujang. Dan pada saat yang bersamaan muncul seorang
penghianat dari keluarga Tong. Orang pertama yang Bujang kenal di Keluarga
Tong. Dibesarkan dan diperbolehkan belajar pada suku Bedouin di Timur Tengah
selama tiga tahun—Basyir—balas dendam karena Tauke telah membunuh orang tuanya.
Akhirnya mereka bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Tong.
Maka terjadilah pertarungan di markas
besar keluarga Tong. Dalam pertarungan Bujang berhasil selamat dengan sisa-sisa
tenaga yang ia miliki. Ia bersama Tauke Besar dan Parwez berhasil melewati
lorong gelap dengan panjang dua ratus meter yang langsung tertuju pada halaman
besar rumah Tuanku Imam.
Saat ia siuman, ia bertanya “Dimana
aku? Siapa kau?”, lalu Tuanku Imam menjawab “Orang-orang memanggilku Tuanku
Imam, Agam. Aku adalah kakak tertua dari Mamak kau. Itu berarti, kau adalah
keponakanku.” Jawaban itu membuat Bujang mematung.
Ternyata rasa takut itu kembali ada di
hati Bujang. Ia takut menghadapi Basyir dan tukang pukul yang sekongkol
dengannya. Hingga akhirnya, Bujang mendapatkan motivasi dari Tuanku Imam.
Setelah termotivasi, Bujang mengajak Parwez untuk kembali ke markas melawan
Basyir dan sekutunya.
***
Aku suka alurnya yang campuran. Dengan
apik, Tere Liye membawa pembaca berimajinasi sendiri tentang permasalahan apa
yang sedang terjadi. Ada bab-bab yang secara sengaja dibuat flashback,
padahal cerita lagi seru-serunya. Tentunya semua jadi saling terkait, seumpama
mengumpulkan satu demi satu puzzle, hingga akhirnya tahu sesuatu. Meminjam
bahasa di buku itu “Semua orang memiliki kelindan sejarang dengan masa lalu.”
Di setiap tulisannya Tere Liye selalu
menyisipkan pesan-pesan bermakna untuk menjalani dan memahami kehidupan, begitu
juga dalam novel ini. Ia pandai merangkai berbagai kata sederhana menjadi
kalimat-kalimat penuh makna. Membaca novel ini seperti mengajak
berpikir kembali untuk pulang. Pulang kepada kebaikan yang perlahan-lahan
menjadi hal langka. Karena sejatinya sejauh apapun kita pergi meninggalkan
orang tua, kita tidak boleh melupakan mereka, walaupun pahit kenangan bersama
mereka, akan ada saat dimana kita merindukan itu semua saat mereka sudah pergi
dan tidak akan kembali lagi.
Novel
ini memang tidak sempurna, karena tidak ada hal yang sempurna di dunia ini,
bukan? Tapi jika melihat banyaknya nasihat dan pelajaran hidup yang bisa kita
ambil dari kisah-kisah yang dipaparkan di dalamnya, maka saya sangat
merekomendasikan untuk pembaca sekalian menjadikan novel ini sebagai referensi
bacaan di waktu senggang. Resensi ini mungkin tak sempurna menggambarkan keindahan
buku ini, pun tak sempurna menjelaskan titik kelemahan dari buku karangan
Darwis Tere Liye ini. Tapi semoga tulisan ini bisa memberikan ulasan yang cukup
untuk membuat pembaca sekalian tertarik membeli novel ini dan membacanya sampai
habis.
Akhirnya, untuk kalian para kutu buku
ataupun mereka-mereka yang memilih menghabiskan waktu luangnya dengan membaca,
maka novel ini boleh jadi ‘kudapan’ yang gurih untuk menemani secangir teh
hangat di waktu santai. Tapi jika kalian menyukai novel-novel bergenre
metropop, teenlit ataupun novel-novel remaja masa kini yang identik
dengan gaya hedonisme, maka saya tidak bisa menjamin jika kalian akan
terpuaskan oleh novel ini. Namun, bagi kalian yang rindu dengan
pemahaman-pemahaman terbaik tentang kehidupan, maka boleh jadi novel ini
merupakan ‘penggenap’ serta pengisi relung-relung yang kosong itu. Tidak lantas
terisi sepenuhnya mungkin, tapi bicara tentang hati bahkan terisi ‘sepetak’
saja pun sudah luar biasa ‘menerangi’ bukan?
Selamat membaca dan
selamat terbawa arus kebaikan hidup.
Bersama halaman-halaman
dan ribuan kalimat yang tersusun didalamnya akan kau temui banyak hal yang
tidak bisa ditemukan ditempat lain.

Comments
Post a Comment