Resensi "Bidadari-Bidadari Surga"

Cerita yang sungguh menggugah hati, dan juga pengarang yang sangat kreatif. Nama pengarangnya adalah Tere –liye yang merupakan nama penanya. Nama aslinya adalah Darwis. Anak ke 6 dari 7 bersaudara ini sudah banyak mengeluarkan novel ciptaannya. Sampai tahun 2015 ini sudah 21 buah novel yang di terbitkannya. Perbedaan Tere Liye dengan pengarang novel lainnya yaitu dia tidak terlalu menampakkan kehidupannya. Tulisannya yang sangat bermanfaat dan sarat akan makna, membuat Tere Liye selalu mendapat acungan jempol dari berbagai kalangan, termasuk novel yang saya resensi ini.
Bidadari-bidadara Surga. Mungkin itulah sebutan yang paling pantas untuk mereka yang berada di lembah Lahambay sana. Berawal dari seorang perempuan dengan kelima anaknya. Anak pertama Laisa, kedua Dalimunte, ketiga Ikanuri, keempat Wibisana, dan terakhir Yashinta. Suaminya telah lama meninggal, sejak  anaknya Dalimunte masih berumur  7 tahun. Saat itu Ikanuri 4 tahun, Wibisana 3 tahun, dan Yashinta masih dalam kandungan. Harimau yang menerkam suaminya sejak beberapa tahun lalu membuat mamak Lainuri harus berjuang sendirian untuk membesarkan anak-anaknya.
Mamak Lainuri yang gagal pada perkawinan pertamanya, membuatnya mencari pasangan lagi. Dari perkawinan kedua itu, dilahirkanlah Dalimunte sebagai anak pertama. Laisa sebenarnya bukan anak dari mamak Lainuri dan tidak ada hubungannya dengan keluarga ini. Laisa hanyalah anak dari suami pertama mamak Lainuri yang meninggal karena minuman keras dan meninggalkan bayinya pada mamak Lainuri. Bayi itulah yang dikenal dengan Laisa. Bayi itu ditinggal dengan keadaan direndam di baskom sehingga membuat tubuhnya berwarna biru lebam. Akhirnya bayi itu diasuh dan dibesarkan oleh mamak Lainuri.
Meskipun Laisa bukanlah anak dari mamak Lainuri, namun mamak Lainuri tetap menyayangi Laisa sebagaimana anak kandungnya. Kelima anak tersebut memiliiki karakter yang berbeda. Yang pertama Laisa, merupakan kakak tertua yang dikenal sangat menyayangi adik-adiknya dan rela mengorbankan apapun demi adik-adiknya sekalipun nyawa sebagai taruhannya.  Fisik Laisa yang gempal, hitam, pendek dan gendut yang jauh berbeda dengan keempat adiknya membuat Laisa sering dipertanyakan sebagai anak kandung atau anak angkat. Meskipun demikian, Laisa tetap tegar dan menganggap itu semua sebagai cobaan yang harus dilaluinya.
Sepeninggal bapaknya, Laisa dititipi pesan untuk menjaga adik-adiknya dan membuat keempat adiknya agar dapat mencapai kesuksesan masa depan. Laisa yang  penuh kerja keras dan pantang menyerah bertekad untuk menjalankan amanah bapaknya tersebut dengan mendidik adik-adiknya. Apapun pasti dikorbankan untuk keempat adiknya. Bahkan karena saking menderitanya keluarga tersebut, Laisa bahkan memutuskan untuk berhenti sekolah agar adik-adiknya yang lain tetap bisa sekolah.
Adik-adik Kak Lais juga telah sukses. Dalimunte, adik yang tertua, telah menjadi seorang professor fisika yang terkenal di seluruh dunia. Ikanuri dan Wibisana, yang terlihat kembar padahal sebenarnya berbeda satu tahun, berhasil membangun bengkel mobil modifikasi dan akan membangun pabrik spare-part mobil sport. Sedangkan si bungsu Yashinta, dia sedang menyelesaikan S-2 di Belandan dan menjadi peneliti untuk konservasi ekologi. 
Ketiga adiknya termasuk mudah dalam mendapatkan jodoh daripada Kak Lais. Karena Kak Lais bukan kakak kandung mereka, maka Kak Lais tidak memiliki kecantikan fisik seperti adiknya, Yashinta. Dalimunte, Ikanuri, dan Wibisana yang telah menikah dan memiliki anak. Sedangkan Yashinta belum mau menikah dengan orang yang dicintainya karena dia tidak tega melompati Kak Lais yang belum juga bertemu jodohnya.
Karena memutuskan untuk berhenti sekolah, Laisa lebih banyak menghabiskan seluruh waktunya di ladang membantu mamak Lainuri demi membiayai Dalimunte masuk SMP, bahkan dia pernah rugi besar karena keinginan untuk merubah perkebunannya menjadi kebun strawberry gagal total, namun dia tidak menyerah dan terus mencobanya, dan dia berhasil.
Waktu akhirnya membesarkan adik-adiknya menjadi sosok-sosok yang rupawan dan sukses, sementara Kak Laisa tetap tinggal di dusun mereka. Sampailah saat dimana adiknya telah cukup dewasa untuk berumah tangga. Tetapi mereka semua segan untuk melangkahi Kak Laisa. Di kampungnya, jika mendahului perkawinan kakak, maka hal tersebut masih dianggap tabu. Maka mulailah adik-adiknya berusaha mencarikan jodoh untuk Laisa, tapi semuanya berakhir mengecewakan.
Laisa mengerti adik-adiknya tidak ingin melangkahinya, padahal mereka semua sudah memiliki calon pendamping. Laisa sangat mengerti bahwa dirinyalah yang menjadi penghalang kebahagiaan adik-adiknya, dan untuk itu sekali lagi ia dengan keras memaksa adik-adiknya untuk segera menikah dan tidak perlu mempedulikan dirinya.
Waktu terus  berlalu tubuh Laisa yang terbiasa bekerja keras akhirnya rubuh juga digerogoti penyakit yang hanya diketahui oleh ibunya. Ternyata penyakit yang diderita Laisa telah lama disembunyikannya. Tidak ada satupun adiknya yang tahu kalau dirinya menderita kanker, yang pada akhirnya telah sampai pada kanker stadium IV.  Dan sampailah saat dimana untuk pertama kali dan terakhir kali dalam hidupnya dia membutuhkan kehadiran adik-adiknya di sisinya, hingga akhirnya mau atau tidak, keempat adiknya tahu akan penyakitnya itu.

Kini adik-adiknya hanya bisa menyaksikan sang kakak yang selalu terlihat keras dan gigih itu terbaring tak berdaya  diiringi kesedihan seluruh penghuni lembah yang menjadi saksi suka duka hidup Laisa. Akhirnya Tuhan berkehendak lain. Tepatnya  di sore yang indah itu Laisa tersenyum untuk selamanya. Laisa kembali ke pangkuan-Nya menuju tempat terindah sebagai balasan hidupnya di dunia yaitu tak lain bergabung dengan bidadari-bidadari surga yang lain di sisi-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Maneken

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa

Resensi "Matahari" - Tere Liye