Resensi "PUKAT"
Pukat adalah anak
laki-laki tertua dari empat bersaudara dalam tetralogi serial anak-anak mamak.
Pukat yang baru berumur 9 tahun mendapatkan julukan si anak pandai karena
sikapnya yang kreatif, cerdik dan juga tekun. Kecerdikan yang ia miliki
seringkali digunakannya untuk memecahkan masalah ataupun membantu orang.
Petualangan Pukat pun dimulai ketika ia, Burlian dan Ayah mereka
menumpang kereta untuk menemui Koh Achan
di kota. Awalnya situasi kereta berlangsung aman dan perjalanan pun terasa
asyik. Hal ini tidak bertahan lama, ketika kereta yang mereka tumpangi mulai
memasuki terowongan. Tepat di tengah-tengah terowongan yang gelap, tiba-tiba
terdengar suara letusan senjata yang bersahutan, ternyata mereka adalah kawanan
perampok. Mereka bukanlah kawanan perampok biasa karena mereka pintar
memanfaatkan situasi. Mereka menjalankan aksinya tepat di saat kereta berada ditengah-tengah
terowongan yang gelap sehingga tidak ada satu pun penumpang yang bisa mengenali
identitas mereka. Tidak hanya itu kawanan perampok ini juga membawa senjata api
yang membuat para penumpang meringkuk ketakutan dan tidak berani berbuat apa-apa.
Dalam menjalankan aksinya, perampok memerintahkan agar para penumpang
menyerahkan semua barang berharga yang mereka bawa dan
meletakkannya didalam karung goni yang telah disediakan. Ketika para perampok
medekati kursi yang diduduki Pukat, Burlian dan Ayahnya, secara diam-diam Pukat
menaburkan bubuk kopi pada sepatu dan celana para perampok. Kebetulan saat itu
Pukat membawa kopi sebagai oleh-oleh untuk Koh
Achan. Kecerdikan Pukat inilah yang akhirnya membantu Komandan Polisi untuk
meringkus kawanan perampok berdasarkan bau kopi yang tertinggal di sepatu dan
celana mereka. Perampok yang tidak sadar akan bau kopi di celana dan sepatu mereka akhirnya tertangkap karena mereka
tidak bisa mengelak dari pemeriksaan Polisi ketika sampai di stasiun kota.
Komandan Polisi pun kagum dengan cara cerdik yang dilakukan Pukat dan
memberinya julukan “si anak jenius”.
Novel ini
mengangkat tema mengenai kesederhanaan dalam hidup, persahabatan dan juga arti
sebuah kejujuran. Salah satu contohnya yaitu ketika Pukat harus mengambil
sendiri pulpen yang dibelinya dan meninggalkan uangnya pada kaleng yang telah
disediakan dalam warung. Hal ini karena anak pemilik warung anaknya sedang sakit sehingga pemilik warung menutup
warungnya dan membiarkan Pukat mengambil sendiri barang
yang dibelinya. Di sekolahnya Pukat termasuk anak yang pintar, tidak
hanya dalam bidang akademik tetapi Pukat pun pintar bergaul dengan
teman-temannya. Tidak heran jika Pukat memiliki banyak teman yang dekat
dengannya terutama Raju. Dalam persahabatannya dengan Raju, tidak jarang mereka
memiliki pendapat yang berbeda. Suatu ketika mereka bermusuhan
karena Pukat yang memiliki shio kambing tidak suka jika dipanggil kambing
oleh Raju begitu pula dengan Raju yang tidak suka dipanggil ayam oleh Pukat hanya
karena shio yang dimiliki Raju adalah ayam. Sebenarnya pertengkaran diantara
Raju dan Pukat berawal dari rasa iri Raju yang tidak suka melihat Pukat menjadi
salah satu anak kebanggaan Pak Bin. Hingga suatu hari saat Wak Lihan (paman
Pukat) mengadakan acara pernikahan putrinya sehingga makanan menumpuk, salah satu makanan tersebut adalah gulai. Pukat dan Raju pun
mendekati tenda dimana masakan untuk hajatan dimasak sambil membawa mangkok
kosong, rencananya mereka akan meminta gulai. Ketika Pukat dan Raju
ditanyai oleh pengurus panci gulai apa yang mereka inginkan, keduanya
serentak menjawab “kambing” jawab Pukat dan begitupula “ayam” kata Raju.
Begitulah cara unik yang membuat mereka berdua berdamai setelah dua bulan tidak
saling berteguran satu sama lain. Tetapi takdir berkata lain, kampung mereka
dilanda banjir besar dan Raju menghilang begitu saja semenjak kejadian itu.
Walaupun Pukat
adalah anak yang baik, hal ini tidak berarti bahwa Pukat selalu menuruti apa
yang dikatakan orangtuanya, Pukat pernah membantah perintah Ibunya untuk
menghabiskan sarapan sebelum pergi sekolah. Pukat yang merasa bosan dan tidak
mensyukuri menu sarapan yang setiap hari hanya nasi dengan kecap asin
sengaja tidak menghabiskan sarapannya walaupun ibunya telah memperingatkan
dirinya. Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas
nikmat-Nya yang setiap hari kita rasakan apalagi jika kita memiliki kehidupan
yang lebih baik dibandingkan Pukat dan keluarganya. Pukat juga pernah
pulang lebih awal dari ladang kopi tanpa seiizin Ibunya hanya
karena ia ingin menonton film kartun kesukaannya.
Empat belas
tahun kemudian Pukat berhasil melanjutkan pendidikannya di Amsterdam dan
ia berjanji akan kembali ke kampung jika ia telah menyelesaikan pendidikannya
dan untuk menjawab teka-teki Wak Yati walaupun didepan pusaranya. Saat
kepulangangannya ke kampung Pukat bertemu dengan Raju yang ternyata sengaja
menjemputnya di bandara. Ternyata Raju juga sukses meraih mimpinya untuk
menjadi seorang pilot.
Di tengah-
tengah cerita Tere Liye menghilangkan kehadiran tokoh Raju hingga pada
akhirnya, Tere Liye menceritakannya lagi justru pada akhir cerita. Hal ini
membuat pembaca terkejut. Penulis membuatnya seperti teka-teki, pembaca yang
cermat mungkin menyadari bahwa sebenarnya Raju tinggal bersama orang tuanya
dikota setelah musibah banjir besar itu, tetapi jika pembaca mengira bahwa Raju
sebelumnya meninggal maka itu artinya sang penulis berhasil menggunakan
teka-tekinya untuk mengejutkan pembaca dan pembaca pun mungkin berkata “Oh… ternyata
saya terkecoh”setelah membaca bagian akhir novel ini. Sang penulis menggunakan
alur maju mundur dalam menceritakan perjalanan
hidup Pukat dengan pesan yang sarat akan makna persahabatan, kejujuran dan
kesederhanaan dalam hidup.
Novel ini
mampu menyampaikan setiap pesan yang tersirat kepada pembaca melalui
kata-katanya yang mengalir dan mudah untuk dipahami. Tidak hanya itu pembaca
pun bisa merasa sedih atau bahkan tertawa sendiri ketika membaca novel ini
karena penulis menceritakan secara detail setiap kegiatan yang ada dan hal ini
mempermudah pembaca dalam berimajinasi. Selain itu, novel ini sangat cocok bagi
semua umur baik tua maupun muda sehingga dapat dijadikan bacaan bagi semua
anggota keluarga, pesan moral yang disampaikan penulis mengenai persahabatan,
kejujuran dan kesederhanaan bisa dijadikan contoh didalam kehidupan nyata
pembaca. Semangat dan ketekunan tokoh Pukat yang berjuang agar dapat meraih
mimpinya walaupun ia hanya berasal dari keluarga sederhana patut dicontoh oleh
generasi muda lainnya untuk meraih cita citanya.

Comments
Post a Comment