Resensi "NEGERI DI UJUNG TANDUK"


“Petarung Sejati Akan Memilih Jalan Suci, Meski Habis Seluruh Darah Di Badan, Menguap Segenap Air Mata, Dia Akan Berdiri Paling Akhir, Demi Membela Kehormatan”

Negeri di Ujung Tanduk, sensasi tegang dan penasaran yang saya rasakan masih sama seperti ketika membaca novel pertama. Setelah selesai baca negeri para Bedebah, kebetulan novel keduanya sudah ada di tangan saya. Karena penasaran, langsung saya baca. Cukup dua hari untuk menyelesaikannya. :D
Pada novel ini, setting waktunya juga cepat. Hanya tiga hari. Pada novel ini tidak lagi menceritakan tentang Bank Semesta, tapi tentang pencalonan presiden salah satu partai. Satu tahun setelah pertarungan menyelamatkan Bank Semesta, Thomas yang kini berumur 34 tahun, telah mendirikan unit baru di kantornya yaitu unit untuk jasa konsultasi politik. Perusahaannya itu telah berhasil memenangkan dua gubernur dalam satu tahun terakhir. Kini ia memiliki klien calon presiden yang telah sukses menjadi walikota sebuah daerah dan sukses menjadi gubernur Jakarta, kliennya itu berinisial JD (you know what i mean ? Haha.) Lagi-lagi Tere Liye mengangkat isu yang sedang dekat dengan kita yaa :D Agak sedikit kecewa sih karena di dalam cerita, kliennya itu telah sukses menjadi gubernur ibukota selama lima tahun, dan ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masa jabatannya sebagai gubernur lima tahun selanjutnya karena ia berencana mencalonkan diri menjadi presiden dari partai terbesar di negeri ini. Satu tahun klien Thomas itu lengser dari gubernur dan mempersiapkan pencalonan presiden. Dalam cerita, JD ini memiliki tabiat yang bersih, ia akan membersihkan hukum dari kecurangan-kecurangan, dan Thomas mempercayainya. Mungkin ini sindiran kali yaa haha. Yap, okelah, mulai pada cerita ini saya memutuskan untuk mengalah, melanjutkan isi cerita hingga akhir.
Dalam pemilihan tokoh yang akan dinaikkan menjadi calon presiden dalam partai terbesar di negeri ini, JD mengalami banyak hambatan yang ikut menyeret Thomas, konsultan politiknya, juga Om Liem. Ada ‘mafia hukum’ yang terdiri dari 5 tingkatan, masing-masing tingkatan terdapat beberapa nama. Ring 1 adalah tingkatan pertama yang merupakan induk dari tingkatan bawahnya. Jumlah aggota mafia hukum pada ring pertama adalah 24 orang, 5 diantaranya adalah petinggi partai yang menolak JD dicalonkan oleh partainya tersebut.
Cerita lagi-lagi dimulai dengan sebuah ‘kejutan’. Thomas–yang baru selesai mengisi seminar politik di Hong Kong dan telah memenangkan pertarungan tinju dengan Lee, petarung terhebat di klub petarung Hong Kong. Ketika pagi hari ia disergap tim khusus ketika sedang mencoba kapal baru pemberian Opanya. Di kapal itu sedang ada Thomas, Opa, Kadek, dan seorang wartawan muda bernama Maryam. Maryam ini kebetulan sedang mengejar Thomas untuk diwawancarai. Maryam berada di waktu yang salah dan tempat yang salah. Maryam ini Julia kedua menurut saya. Dekat dengan Thomas kemudian dicampakkan haha :D
Ditemukan seratus kilogram barang terlarang di kapal, padahal tidak ada yang pernah memasukkannya ke kapal tersebut. Habislah Thomas, Opa, Kadek, dan Maryam dibawa ke gedung kepolisian Hong Kong untuk diinterogasi.  Thomas dijebak, namun ia dapat kabur. Tentu saja. Dia kan cerdik dan gesit. Tapi tidak lama kemudian, kliennya, JD ditangkap juga oleh kepolisian karena dugaan kasus korupsi padahal JD tidak pernah melakukannya. JD dijebak. Ada mafia hukum yang tidak menyukai pencalonan JD menjadi presiden. JD dengan rekayasa dijebak dituduh melakukan korupsi agar tidak bisa mendatangi Konvensi Partai yang akan merumuskan siapa calon yang diangkat partai tersebut untuk menjadi presiden. JD akan menegakkan hukum dengan bersih jika menjadi presiden. Mafia hukum pernah mengajaknya masuk dalam konspirasi, namun JD menolak, akhirnya mafia hukum menyerang JD dan pendukungnya.
Lagi-lagi Thomas menjadi buronan. Ia menitipkan Opa dan Kadek di tempat yang aman, kemudian membawa Maryam mengurus mafia hukum yang berada di partai. Akhirnya dengan kecerdikan Thomas, lima mafia hukum yang menjadi petinggi partai ditangkap karena kasus korupsi dana PON yang memang benar-benar dilakukan mereka. Tentu saja Thomas dibantu dengan Maggie, Kris, dan teman-teman dari klub petarung dalam misi ini. Oh ya, dalam novel ini ada juga wartawan perempuan yang memiliki acara talk show sendiri, bernama Najwa (oops Najwa yang itu kah ?? Haha). Dalam penyelidikan siapa dalang dari mafia hukum ini, ternyata ditemukan sebuah nama. Shinpei, teman Papanya dan Om Liem yang dua puluh tahun lalu tidak menyukai bisnis Arisan-Berantai. Shinpei-lah yang menjadi dalang semua konspirasi besar yang melibatkan pejabat negara, anggota DPR, anggota kepolisian, dan pada ‘bedebah’ lain. Thomas menghadapi serigala lebih buas dengan kekuasaan lebih besar sekarang dibanding yang ia hadapi setahun yang lalu ketika menyelamatkan Bank Semesta. Shinpei dan mafia hukum di bawahnya ini mengingatkan saya sama voldemort dan Pelahap Maut hahaha :D
Di akhir cerita, Thomas menyerahkan diri kepada Shinpei di Hong Kong untuk menyelamatkan Om Liem yang menjadi sandra mereka. Lalu, bagaimana nasib Thomas dan Om Liem? Silakan baca sendiri bukunya hahaha. Dijamin seru :D
Membaca novel ini seperti nonton film action. Tembak-tembakan, alur cerita yang cepat dan padat, juga karakter-karakter tokoh-tokohnya. Novel ini seperti nyata. Konspirasi, rekayasa, pencitraan, semuanya seperti ada di sekeliling kita. Bahkan Bank Semesta, Ibu Menteri, Putra Mahkota, partai Lembayung, semuanya mengingatkan pada yang itu. Hahaha :D Tapi di halam depan sebelum cerita dimulai ada tulisan “Cerita ini adalah fiktif, Apabila ada kesamaan tokoh, empat, dan alur cerita, itu hanyalah kebetulan belaka”. Gak main-main, kalimat itu ditulis pada satu lembar khusus. Mungkin bagi orang yang tidak menyukai alur cerita yang cepat, cerita rekayasa-rekayasa, konspirasi, dsb tidak akan mudah menyukai novel ini.
Tantangan, kejutan, dibumbui humor, strategi, rekayasa, dan bonus ilmu penting seperti ilmu ekonomi, komunikasi, psikologi, keuangan, hukum, sampai ilmu tentang racun semuanya disediakan di novel ini. Semua ceritanya seperti dekat, ada di sekitar kita. Membuat kita berfikir, tertawa, penasaran. Inilah yang  membuat saya menyukai dwilogi novel ini.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Maneken

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa

Resensi "Matahari" - Tere Liye