Resensi "ELIANA"
Betapapun Lemahnya Perempuan, Jangan Remehkan
Mereka
Eliana, gadis sulung dari empat bersaudara.
Memiliki dua adik laki-laki bernama Pukat dan Burlian serta satu adik perempuan
yang lucu bernama Amelia. Gadis kecil kelas enam Sekolah Dasar ini sedari awal
tidak tahu apa nama cita-citanya, yang pasti gadis kecil Si Pemberani ini
selalu ingin bercita-cita menjadi pembela kebenaran, memihak pada mereka yang
tertindas dan menolong mereka yang lemah. Entah apapun nama profesinya kelak,
Eliana ingin menjadi Pembela semua orang yang membutuhkan bantuan dan yang
teraniaya.
Seperti yang saya katakan, Eliana adalah gadis kecil
yang tidak pernah takut akan hal apapun. Termasuk membentak dan memarahi
pejabat tinggi. Seperti ketika Bapak dan tetua kampung menghadiri pertemuan di
kota kabupaten tentang akan datang orang-orang kota yang akan mengeduk pasir di
sungai mereka, dan ketika pejabat tinggi itu menghina Bapak karena suatu hal, Eliana tak
kuasa menahan amarah, Eliana tidak akan pernah rela jika Bapaknya dihina hanya
karena miskin (Kau Anak Pemberani-1, h. 1). Sedari awal, Eliana tidak pernah suka dengan siapapun orang kota
yang datang ke kampung untuk urusan merusak hutan. Menebang pohon-pohon,
mengeduk pasir hingga kandas, semua itu merusak populasi ikan di sungai, semua
itu mengakibatkan ikan tidak betah lagi berada di kampung mereka, merusak
ladang warga, musnah semua.
Keberanian membentak pejabat tinggi hanya satu dari
keberanian-keberanian Eliana lainnya. Di dalam Novel Eliana, Serial Anak-Anak Mamak Buku-4 ini, Tere Liye
menceritakan dengan detail bagaimana orang-orang di kampung
sangat benci dengan kedatangan orang-orang kota yang rakus. Tere Liye
menggambarkan layaknya ini adalah kisah nyata baginya, lihai sekali ia
mengaduk-aduk perasaan pembaca. Seperti merasakan sendiri bahwa kampung kitalah
yang tengah di rampas oleh orang kota.
Bersama gengnya “Empat Buntal” Eliana memiliki banyak
rencana untuk mengusir truk-truk besar yang datang untuk mengambil pasir di
sungai mereka. Empat Buntal? Kalian tahu apa itu Buntal? Buntal adalah ikan
berbadan bulat seperti balon serta duri di sekujur badannya, selalu siap
menyergap dengan duri-duri ganasnya siapapun yang hendak mengusik ketenangannya.
Eliana, Hima, Damdas dan Marhotap. (Empat
Buntal h.235) hei, kalian pasti pernah mendengar kan bahwa
musuh bebuyutan bisa saja menjadi
sahabat baik, juga sebaliknya. Eliana dan Marhotap awalnya juga musuh
bebuyutan, saling membenci karena salah paham. Sama kasusnya dengan Mamak dan
Bapak Eliana yang sebelum menikah juga sangat saling membenci, juga karena
salah paham dan hal sepele. Aduhai, kenapa pula sekarang Eliana dan Marhotap
menjadi sahabat karib. Atau sudah tumbuh rasa-rasa itu? “Mirip dengan waktu
Bapak dulu yang menuduh Mamak mencuri bungkusan baju kurung di gerbong
kereta, kan? Nah, jangan-jangan suatu hari nanti Kak
Eli dan Kak Hotap sama dengan Bapak dan Mamak. Sekarang benci-bencian, akhirnya
ternyata nikah.” (h. 197) Prasangka Amelia ternyata tidak sesuai dengan takdir.
Saya juga awalnya berprasangka begitu, sudah senang sekali membaca
episode itu bahwa mereka membentuk geng bernama Empat Buntal yang terus
bersikukuh dan menyiapkan banyak rencana untuk mengusir orang-orang kota rakus
itu. Tapi ternyata Marhotap, sahabat baru Eliana itu, yang dulu bersumpah akan mengalahkan posisinya
menjadi juara kelas itu hilang entah kemana, tidak tahu pergi kemana, sejak Hotap memberanikan diri pergi
sendiri untuk menyerang para pekerja pengeduk pasir, Marhotap pergi (Marhotap
Pergi h. 249)
Nah, sudah saya katakan. Tere Liye itu lihai
sekali memporak-porandakan perasaan pembaca, membuat pembaca penasaran dan ber-yaaaa setengah
mati. Kenapa pula Tere Liye menghilangkan tokoh Marhotap, sedih sekali membaca
episode itu, termasuk Eliana, orang yang paling sedih ketika Hotap hilang.
Bagaimanalah dengan “Empat
Buntal”?
Jangan salah, “Empat Buntal” tetap kokoh meski tanpa
Hotap. Sekarang ada Anton yang sejak Pak Bin (guru kesayangan semua murid
sekolahan) menggabungkan mereka dalam satu tim untuk pameran di Kota Provinsi,
mereka kembali membentuk Empat Buntal agar semakin kokoh. Bahkan lebih solid
dari kemarin.
Berbagai strategi telah dipasang. Saya pikir, cerita
Eliana ini terus berkutat di masalah perlindungan hutan, mempertahankan warisan
leluhur. Ya, dari hal itulah Eliana selalu terlihat pemberani. Namun begitu,
cerita Eliana ini memiliki banyak pelajaran untuk seluruh rakyat di dunia,
bahwa untuk menjaga kelestarian hutan merupakan tugas kita bersama, bukan hanya
tugas orang-orang kampung yang tinggal di sekitarnya.
Kisah Eliana di dalam novel ini, agaknya membuka mata
kita bahwa anak perempuan kecil seperti Eliana saja mampu berpikir dewasa untuk
melindungi warisan leluhur. Bukan sekedar memikirkan materi dunia, dengan
mengambil habis warisan alam. Anak perempuan pemberani seperti Eliana ini patut
sekali perangainya ditiru. Meski diawal sangat geram menjadi anak sulung karena
selalu menjadi bodyguard dan alarm bangun pagi untuk adik-adiknya. Eliana
mulai berpikir dewasa setelah peristiwa tragis kabur dari rumah membuatnya
sadar bahwa untuk menjadi anak Sulung memiliki tanggung jawab yang besar, dan
harus menjaga kepercayaan Mamak dan Bapaknya. (Kasih Sayang Mamak-7 h. 375)
hei, kalian harus tahu satu hal, saya menangis terisak ketika tiba di episode
Kasih Sayang Mamak-7 ini.
Banyak sekali peristiwa-peristiwa mencengangkan di
akhir-akhir cerita buku ini. Kalau kita terkadang bisa histeris menonton film aksi
atau film horor. Saya pastikan bahwa episode Malam Pembuktian-2 h. 495 di dalam
novel dengan tebal 520 halaman ini akan membuat kalian histeris dan deg-degan
bukan kepalang, tidak bisa berhenti membaca setiap lembar demi lembar untuk
menemukan ending ceritanya. Jika kalian selesai membaca cerita Eliana, maka
kalian akan tahu filosofi dari gambar di cover novel ini.
Kalian juga harus tahu, Eliana demi membuktikan bahwa
anak perempuan tidak patut diremehkan, ia pernah melakukan hal yang sangat
tidak boleh dilakukan oleh anak perempuan, mengumandangkan azan di masjid. Ya,
Eliana Si Pemberani ini, hingga cita-citanya menjadi pembela kebenaran
terwujud, ia akan tetap membuktikan bahwa anak perempuan tidak boleh
diremehkan. Kalian ingin tahu apa profesi Eliana setelah ia dewasa? Ingin tahu
kemana perginya Marhotap? Kalian harus baca bukunya langsung, temukan sensasinya.

Comments
Post a Comment