Resensi "BURLIAN"
Berani Bermimpi Meski Dengan Keterbatasan Ekonomi
Burlian, Si anak Spesial yang Percaya Diri adalah
anak ketiga dari
empat bersaudara. Memiliki dua kakak bernama Eliana dan Pukat serta satu adik
bernama Amelia. Di episode selanjutnya saya akan membahas tentang ketiga
saudara Burlian ini, setelah saya selesai membaca tiga buku lainnya Eliana,
Pukat dan Amelia.
“Kau sejak dilahirkan memang sudah berbeda, Burlian.
Spesial…” (h. 1) Ya, Burlian adalah lelaki kecil kebanggaan Mamaknya, selalu
dianggap berbeda dan spesial. Lalu apakah makna berbeda dan spesial tersebut
membuat kakak dan adiknya cemburu? Tidak, Mamak dan Bapak selalu mengasihi
anak-anaknya dengan adil. Sesuai porsinya, kakak dan adiknya pun memiliki
kelebihan tersendiri di mata Mamak dan Bapak mereka.
Di dalam novel dengan 25 episode ini, Tere Liye
menceritakan betapa berharganya dunia anak-anak, betapa dunia nakal anak-anak
akan menjadi pelajaran tersendiri bagi kehidupan orang dewasa dan betapa masa
anak-anaklah yang akan menentukan bagaimana kelak anak itu dewasa.
Burlian, terlahir dari orangtua yang tak tamat Sekolah
Rakyat (Sekolah Dasar), membuat Bapak terus menanamkan prinsip pada anak-anaknya betapa pentingnya
pendidikan. Untuk mendapatkan biaya sekolah keempat anaknya, Mamak dan Bapak
bekerja keras dari pagi hingga petang di ladang demi pendidikan yang dulu tak pernah mereka rasakan hingga tamat. Namun
begitu, dunia anak-anak tidak akan mengerti dengan hanya dimarahi atau bahkan
diberi teori. Burlian, anak kecil yang nakal, tidak suka sekolah dan hobi
bolos. Dan untungya ada Si kecil Amelia yang tinggal di rumah, selalu banyak
tanya hingga akhirnya tidak bisa menutup mulutnya untuk tidak mengadukan
apa-apa pada Mamak dan Bapaknya tentang yang telah dilihatnya seharian. Dan
akhirnya dapatlah Burlian hukuman yang tak pernah ia duga, diizinkan tidak sekolah dan seharian naik
turun hutan untuk mencari kayu bakar. Pelajaran penting, bahwa sekolah lebih
mudah ketimbang bekerja seharian penuh seperti Mamak dan Bapaknya. Bukan
liburan yang ia dapat, yang ada hanya lelah.
Dalam dunia Burlian si Penggila Buku, ada Pak Guru Bin
yang rela mengabdi seumur hidup demi pendidikan anak-anak Sekolah Rakyat di
Desa. Pengabdian yang tulus, rela digaji berapa saja atau bahkan tidak dapat
gaji sama sekali, asalkan anak-anak dapat mengecap bangku pendidikan, perangai
ikhlas tersebut membuatnya sangat dicintai oleh 13 muridnya, termasuk Burlian
yang sangat bangga dengan Pak Bin, meski terkadang Burlian bosan mendengarkan
kalimat-kalimat motivasi dari Pak Bin, Burlian tetap menyayanginya.
Suatu ketika Sekolah dengan 13 murid itu ambruk,
meninggallah dua murid kembar (Juni dan Juli) tertimbun reruntuhan dan Burlian ikut ambruk terkena
tempias reruntuhan. Dalam kejadian tersebut, Burlian menjadi malaikat
bersejarah dalam hidup Pak Bin, di depan banyak media Burlian mengatakan bahwa
ia menginginkan Pak Bin diangkat menjadi PNS. Ah, saya terharu sekali bila
menceritakan bagian ini. Semua berkat keberanian Burlian. Setelah 15 tahun
tidak diterima menjadi PNS karena tidak mampu “menyuap”, akhirnya Pak Bin
diangkat menjadi PNS dengan cara terhormat. Burlian, semua karena cintanya pada Pak Bin, guru
kebanggaannya. Dan episode Robohnya Harapan Kami (239) menjadi hikmah berharga
bagi Pak Bin
Sifat percaya diri dan ingin tahu Burlian membawanya
pada banyak pengalaman baru. Termasuk pengalaman baru mengenal Nakamura-san. Pria parubaya berkebangsaan Tokyo yang
datang ke Desa Burlian untuk menyelesaikan proyek pembangunan jalan. Nakamura-san yang selalu memanggil Burlian dengan
sebutan Burlian-kun ini telah menganggap Burlian seperti anaknya sendiri.
Bagaimana tidak, Nakamura-san memiliki anak perempuan yang seumuran dengan
Burlian. Dengan profesinya sebagai Penjelajah Negeri demi sebuah proyek
pembangunan, gadis kecilnya itu membencinya, merasa benci sekali dengan
keadaan, kenapa harus dipisahkan dengan ayahnya. Jadilah Burlian sebagai teman
sejawat yang selalu mendengarkan curhatannya. Aduhai, Burlian yang masih
terbilang anak ingusan ini sudah berlagak seperti sebaya dengan Nakamura-san.
Itulah, Burlian itu spesial. Menembus batas terlarang hutan, menjadi tahanan stasiun kereta karena
meletakkan paku di rel kereta demi sebuah pisau kecil, merubah teman yang
pendiam menjadi pemberani, bermain dengan senapan angin milik Bapak, ah itu
semua belum menggambarkan betapa spesialnya Burlian.
Buku Best Seller ini juga menjelaskan
betapa tidak bermoralnya pemimpin yang membeli suara rakyat demi kursi jabatan. Dan betapa pentingnya memiliki
pemimpin meski tidak ada yang pantas. Juga betapa tidak eloknya memperolok
calon pemimpin yang buruk tapi yang memperolok tersebut tak mampu mencalonkan
diri menjadi pemimpin. “…Kalau kalian benci, kenapa kalian tidak mencalonkan
diri? Kenapa kalian tidak menunjuk salah seorang di antara kalian untuk
melawannya dalam pemilihan? Itu lebih baik dibandingkan hanya sibuk menggunjingkan..” (h. 234)
“… Dan yang lebih jahat lagi, ketika seorang pemimpin telah terpilih, kau
justru lebih asyik memperoloknya dibandingkan membantunya bekerja…” (h. 237)
Di dalam novel yang tebalnya 342 halaman ini, penikmat
novel bukan hanya akan menikmati alur cerita yang akan membuat kita kembali
bernostalgia dengan masa kanak-kanak kita. Novel ini juga memberikan beberapa
ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Di
novel ini meski terdapat banyak bahasa daerah yang tidak dimengerti, namun Tere
Liye lihai memberikan penjelasannya lewatfootnote (catatan kaki)
yang menjelaskan pengertian dari setiap kata daerah yang diletakkan di akhir
tulisan per halamannya.
Sungguh, betapapun banyak pujian, tidak mampu saya
tuangkan di review saya ini. Tere Liye benar-benar menyentil telinga para
orangtua untuk tidak meremehkan masa kanak-kanak. Mengajarkan kesederhanaan
dalam hidup tanpa mendikte dan serasa digurui. Mengajarkan pada anak untuk
mencintai dan menghargai jerih payah orangtua. Untuk para orangtua dan remaja
ataupun siapapun anda, buku ini sangat cocok anda konsumsi. Tidak ada ruginya
mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Termasuk pengalaman hidup si
Spesial, Burlian.
Comments
Post a Comment