Resensi "AMELIA"
Menjadi Bungsu
Yang Kuat, Bukan Bungsu Si Penunggu Rumah
Amelia, si gadis
bungsu yang kuat. Terlahir menjadi anak bungsu, membuatnya tak terima dengan
kenyataan, selalu ingin bertukar posisi dengan kakak sulungnya, Eliana.
Baginya, menjadi bungsu hanyalah “korban” perintah-perintah kakaknya, selalu
disuruh-suruh dan selalu menjadi “penunggu rumah”. Selain memiliki kakak sulung
yang selalu ngatur-ngatur, Amelia juga memiliki dua kakak laki-laki yang tak
kalah menyebalkannya dengan Eliana, saban hari meledek dan menjahili Amelia,
Pukat dan Burlian namanya.
Di dalam novel
Amelia, Serial Anak-Anak Mamak yang merupakan buku pertama namun terbit pada
sesi terakhir ini, Tere Liye menjabarkan betapa tidak selamanya anak bungsu
berperangai manja dan cengeng. Buktinya Amelia, terlahir dengan perangainya
yang kuat, tidak pernah menyerah, sekalipun situasi menyadarkannya bahwa anak bungsu
pada akhirnya akan tetap menjadi “penunggu rumah” dan sejauh apapun ia pergi,
takdir akan membawanya kembali.
Saking inginnya
bertukar posisi dengan Kakaknya, Eliana. Amelia ingin sekali dipanggil dengan
sebutan Eli, yang dari penggalan namanya juga ditemukan nama Am-Eli-a (Si
Tukang Ngatur-Ngatur, h. 1). Amel tidak akan pernah tahu bahwa sulit sekali
untuk menjadi anak sulung, bersikeras tidak ingin menjadi anak bungsu, ngotot
sekali bahwa menjadi anak sulung itu lebih menyenangkan, bisa ngatur-ngatur
sesukanya, merintah ini merintah itu. Bahkan nasihat Bapaknya pun tak kunjung
menyentuh keteguhannya akan bencinya ia menjadi anak bungsu “Menjadi anak nomor
berapapun, sama saja Amel. Sama pentingnya, sama posisinya. Hanya berbeda
tanggung jawab sesuai usia masing-masing.” (Aku Tidak Mau Jadi Anak Bungsu, h.
19)
Hingga akhirnya
“keras kepala” Amel gugur bersama bukti yang ia saksikan sendiri, bahwa betapa
sayangnya kakak sulungnya itu padanya, yang selama ini ia anggap sebagai si
tukang ngatur-ngatur dan hanya bisa memarahinya setiap saat. Amel, begitulah
seluruh isi kampung menyapanya, termasuk Eliana. Ia tersadar ketika satu
kejadian benar-benar membuatnya terisak menyaksikan kakaknya rela jatuh
tersungkur demi melindunginya di dalam hutan yang curam, Kak Eli yang
menggendongnya sepanjang jalan setapak yang licin jatuh tersandung tunggul di
hutan, Amelia tersadar bahwa kakak yang selama ini dia anggap tak pernah
menyayanginya itu ternyata benar-benar menyayanginya, bukan melindunginya
karena takut dimarahi mamak, terlebih karena memang menyayangi adik-adiknya.
Itulah, itu tanggung jawab terbesar seorang kakak dan menjadi sulung itu
bukanlah pekerjaan mudah (Panggil Aku “Eli”, h. 69). Kalau di Buku Eliana
terdapat kisah mengharukan antara Eliana dengan Mamaknya, di episode ini Tere
Liye juga menyentuh saya selaku peresensi yang memiliki posisi sebagai kakak
dan terkadang pula dianggap “begitu” oleh adik-adik saya. Sungguh, Serial
Anak-Anak Mamak ini membawa kita seakan berada di posisi tersebut, hanyut dan
mengambil hikmah.
Kalau Eliana
punya geng namanya Empat Buntal, Amelia bersama teman-temannya Maya, Tambusai,
Cuck Noris, juga hampir memiliki nama geng. Karena empat sekawan ini adalah
anak bungsu, maka mereka menamai geng mereka dengan Geng Anak Bungsu, namun
sayangnya nama geng itu tidak kunjung dipakai. Percuma, ada atau tidaknya nama
geng, empat sekawan ini akan tetap melakukan perubahan pada bibit kopi kampung
mereka agar lebih subur dan produktif (Rencana-Rencana Besar, h. 305).
Kalau kalian
ingin tahu bagaimana anak SD bisa ikut andil dalam Pertemuan Besar bersama
tetua kampung dan mengusulkan rencana besar yang harus melibatkan persetujuan
seluruh penduduk kampung, kalian harus baca bagaimana kuat dan teguhnya Amelia
dalam menyampaikan rencana penyemaian bibit kopi kepada seluruh isi kampung di
dalam novel 33 episode ini. Tidak peduli aral melintang, Amelia tetap
bersikukuh untuk kehidupan kampung yang lebih makmur. Hei, anak sekecil Amelia
saja sudah “repot” memikirkan kemakmuran kampung, apakah kita akan terus acuh?
Dalam kisah
Amelia ini, Tere Liye menyampaikan pesan moral tentang keharusan anak manusia
merantau dan menjelajah dunia untuk menuntut ilmu, sekalipun ia anak perempuan
dan bungsu pula. Itulah yang dilakukan Amelia, sekalipun Kak Pukat dan Burlian
selalu mengatakan bahwa Amelia akan tetap jadi penunggu rumah, tidak akan
pernah kemana-mana, tetap tinggal di kampung halaman. Akhirnya Amelia tetap
bisa membuktikan bahwa anak bungsu yang dulu selalu jadi “korban” perintah
kakak-kakaknya bisa menyelesaikan gelar doktor dalam bidang Pedagogi, juga menyelesaikan studi dalam bidang Pertanian Kultur
Jaringan, karena demi kampung tercintalah si bungsu Amelia mengambil jurusan
tersebut, gigih sekali ingin kampung tercinta memiliki lahan kopi yang produktif.
Bahkan Amelia sudah menyusul kak Pukat sampai ke Belanda.
Setelah
merantau dan menuntut ilmu dalam bidang pertanian, apakah Amelia akan tetap
menjadi “Penunggu Rumah” seperti yang selalu disampirkan di namanya? Apakah
cita-cita Amelia sebenarnya? Apakah hanya ingin jadi petani di kampung mereka?
Dan apakah usaha Amelia bersama teman-teman dalam mengajukan rencana besar
untuk merubah bibit kopi yang produktif berhasil terlaksana? Wah banyak sekali
pertanyaan yang saya lontarkan.
Kalau kalian
tahu apa yang dilakukan Amelia setelah menuntut ilmu sampai negeri kincir
angin, lalu mewujudkan cita-cita yang sedari awal tak pernah ia ketahui, dan
ternyata cita-cita tersebut dekat sekali dengan kehidupannya. Apakah kalian
akan menganggap Amelia si bungsu yang “bodoh”? atau si bungsu yang mulia? Maka
kalian harus baca bukunya, temukan sensasi “riangnya” jadi anak bungsu. Dan
baca juga serial kakak-kakaknya, Eliana, Pukat dan Burlian. Selalu ada hikmah
di setiap lembar kisah mereka.

Comments
Post a Comment