Resensi "DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN"

Tania, gadis yang harus merasakan pahitnya kehidupan kumuh kota besar, bertemu dengan seseorang yang menjanjikan masa depan yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Ia menghantarkan secercah cahaya ke dalam ruang sempit dalam rumah kardus yang ditinggali Tania bersama ibunya dan adik laki-lakinya. Bertahun-tahun berlalu, cerita sedih dan bahagia silih berganti menyinggahi perjalanan Tania. Seiring dengan itu, senyum dan kebaikan orang itu selalu menghantarnya hingga dewasa. Gadis itu akhirnya sadar bahwa perasaan lugu yang diam-diam tumbuh di hatinya sejak dulu bukanlah perasaan biasa selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Salahkah perasaan ini? Salahkah bila Tania menyukai seseorang itu, seseorang yang menjadi malaikat bagi keluarganya?
*****
Novel ini indah. Setidaknya menurutku yang tidak begitu menggemari kisah romansa yang manis bertabur gula. Aku lebih suka kepingan cinta yang terselip melalui jalinan tutur tokoh utama mengenai perjalanan hidup yang dilaluinya. Tak masalah bila harus berakhir sepahit kinin*sekalipun.
Karakter Tania yang kuat dan cerdas memenuhi syarat heroine yang kusukai dalam cerita manapun yang kubaca. Watak dia (aku tak mau menuliskan namanya, seperti Tania) yang baik hati, penyayang, dan tulus menurutku menjadi prasyarat untuk menjadi tokoh favorit yang disenangi semua orang, dari anak-anak hingga wanita yang membutuhkan pendamping hidup. Sementara itu, sang Ibu yang begitu tegar telah mengajarkan Tania tentang nilai-nilai kehidupan dan arti kesabaran dalam perjuangan melalui masa-masa berat. Serta Dede, sang adik kecil yang suka menceletuk seenaknya, di saat-saat tertentu bisa diandalkan dan mampu menjadi sosok yang pengertian.
Alur penceritaan yang maju-mundur, dari pemandangan kota Depok di masa kini, lalu mundur ke masa lalu, serta terbagi menjadi bab-bab yang diceritakan secara sistematis, runut sejak Tania kecil hingga dewasa. Novel ini juga menyimpan potongan teka-teki terakhir yang akan menjawab pertanyaan yang menghantui Tania selama bertahun-tahun.
Seperti apa jawabannya? Silakan dibaca sendiri.
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Maneken

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa

Resensi "Matahari" - Tere Liye