Resensi "SUNSET BERSAMA ROSIE"
"Tumbuhnya Cinta, Karena Terbiasa"
“Kata orang bijak, kita tidak pernah merasa lapar untuk dua hal. Satu, karena jatuh cinta. Dua, karena kesedihan yang mendalam. Maka akan lebih menyakitkan akibatnya ketika kita mengalami jatuh cinta sekaligus kesedihan yang mendalam.” – Sunset Bersama Rosie
Gunung
Rinjani menjadi saksi bisu kekalahan Tegar dari Nathan untuk
mendapatkan Rosie. Rencana yang telah disusun rapi oleh Tegar seketika menjadi
bumerang tersendiri baginya karena menyertakan Nathan dalam rencana tersebut.
Nathan mendapatkan hati Rosie di tempat dan waktu yang telah direncanakan
matang oleh Tegar , namun takdir berkata lain. Dua puluh dua tahun Tegar
mengenal Rosie setara dengan dua bulan Nathan mengenal Rosie. Dan
Tegar harus menghilang dan membunuh dengan tega setiap kerinduan itu muncul.
Tegar sukses
menenggelamkan dirinya dalam kesibukan dunia pekerjaan, selama lima tahun terus
berusaha berdamai dengan masa lalu. Bekerja tanpa kenal lelah dan tidur,
seperti robot yang seolah tidak bisa berhenti. Omanya yang berada di Gili
Terawangan, sempat memberi nasihat yang selalu sama setiap waktu, saat ia masih
tinggal bersama Rosie yang mau tak mau terus tertanam dalam benak Tegar. Tak
memberi sedikit pun kesempatan bagi kenangan pahit itu untuk sekadar melintas
di kepalanya. Hingga ia bertemu dengan Sekar, seorang gadis baik hati yang
memberikan napas baru dalam hidupnya. Seorang gadis setia yang dengan amat
sabar menunggunya merealisasikan mimpi indah dalam sebuah pernikahan.
Novel
ini bercerita tentang cinta, takdir, pengorbanan, dan kehilangan.
Berawal dari peristiwa bom di Jimbaran Bali yang menewaskan ratusan orang,
termasuk salah satunya Nathan, suami Rosie. Peristiwa yang membuat Rosie
depresi dan harus direhabilitasi yang memaksa Tegar kembali dari Jakarta untuk
mengurus Anggrek, Sakura, Jasmine, Lili dan resort keluarga
Nathan, meski Tegar harus meninggalkan Sekar, wanita yang dicintainya dalam
pengertian cinta yang berbeda.
Kembalinya
Rosie dari rehabilitasi memunculkan kesempatan Tegar yang dulu hilang.
Namun seperti kata oma-nya bahwa tidak ada mawar yang tumbuh di atas
tegarnya karang. Konflik di novel ini semakin menarik karena Sekar kembali ke
kehidupan Tegar dan meminta Tegar menunaikan janjinya untuk menikahi Sekar.
Gaya
bahasa yang digunakan Tere Liye sangatlah sederhana dan mudah dipahami pembaca.
Di setiap kalimat mengandung makna yang tersirat juga tersurat sehingga banyak
prinsip-prinsip kehidupan yang bisa diterapkan oleh pembaca. Seperti
prinsip “memaafkan bukan berarti melupakan”. Bahwa Dalam kehidupan
sehari-hari, memaafkan adalah hal yang mudah. Namun tidak dengan melupakan.
Karena paku yang ditancapkan di kayu akan meninggalkan bekas meski paku telah
dicabut.
Novel
ini mengajarkan kita bagaimana menyikapi kehilangan dan menerima
takdir dengan cara yang sederhana. Bahwa
cinta sejati akan menemukan jalannya. Jalan yang sudah terukir dalam suratan
takdir-Nya.Dengan kempampuan deskripsi yang dimiliki Tere Liye membuat
pembaca mudah larut dengan alur cerita dan kata-kata puitis yang menghipnotis.
Dan novel ini bagus dibaca oleh remaja yang ingin memahami arti kehidupan dan
cinta.
Namun
ending dari novel ini sangatlah drama seperti sinetron-sinetron kebanyakan. Di
mana dalam kehidupan nyata memiliki kemungkinan yang kecil seperti ending
cerita di novel ini. Selain itu Tere Liye memposisikan Tegar sebagai
lelaki yang lemah saat mengakui kekalahannya dan memilih menghilang dalam waktu
yang cukup lama.

Comments
Post a Comment