Resensi "SEPOTONG HATI YANG BARU"
Akan Selalu Ada Bahagia Setelah Luka
Buku Sepotong Hati yang Baru merupakan kumpulan 8 cerita pendek.
Buku ini adalah buku kedua dari serialBerjuta Rasanya yang juga merupakan kumpulan cerpen karya Tere Liye. Seperti Berjuta Rasanya, buku ini berisikan
cerita-cerita dengan tema perasaan dan cinta. Pengarang menyajikan berbagai
kisah cinta ala legenda hingga modern. Setiap cerita di
dalamnya memiliki kekuatan masing-masing, baik dari segi penyampaian cerita
maupun dari permasalahannya. Sesuai dengan judul, buku ini lebih dititik beratkan pada tema
“patah hati” dan bagaimana mendatangkan pemahaman-pemahaman yang lebih
bijaksana dalam menyikapinya.
Cerpen pertama, berjudul “Hiks, Kupikir
Itu Sungguhan” berkisah tentang dua remaja bersahabat yang menyukai orang yang
sama. Kasmaran menyebabkan mereka tidak lagi berpikir waras dan rasional.
Menerjemahkan semua kejadian berdasarkan yang mau mereka dengar atau lihat
saja. Padahal nyatanya? Tidak sama sekali.
Cerpen kedua,
“Kisah Sie Sie” menceritakan Sie Sie, amoi dari daerah Singkawang yang terpaksa
menikah dengan Wong Lan, pria kaya asal negeri Taiwan. Lelaki itu tidak
mencintai Sie-Sie sama sekali, malahan Sie-Sie hanya dijadikan alasan untuk
mendapatkan harta warisan orangtuanya. Keteguhan hati Sie Sie dalam menjalankan
apa yang telah dijanjikan pada ibunya merupakan hal yang sangat jarang kita
jumpai dalam era modern ini.
Cerpen ketiga
adalah “Sepotong Hati yang Baru”. Cerpen yang judulnya digunakan sebagai judul
buku ini memiliki pesan yang sangat baik. Bahwa cinta bukan sekedar memaafkan,
cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya, cinta adalah harga diri, cinta
adalah rasionalitas sempurna.
Cerpen keempat berjudul “Mimpi-Mimpi
Sampek-Engtay” yang merupakan salah satu cerita yang paling menarik di buku
ini. Membaca cerita ini membuat kita serasa sedang menyaksikan film kolosal.
Sebuah kisah percintaan Sampek seorang pemuda miskin dengan Engtay putri salah
seorang petinggi kerajaan. Kisah mereka berakhir tragis dengan kematian Engtay,
namun sebelum itu Sampek sempat mengeluarkan jurus Sembilan Naga Surga saat
melawan prajurit dan pendekar kerajaan. Jurus itu hanya dapat dikuasai oleh
seseorang yang memiliki hati yang baik tapi tersakiti dan tidak pernah membenci
atas takdir yang menyakitkan.
Cerpen kelima, “Itje Noerbaja dan Kang
Djalil” berlatar Indonesia saat dikuasai oleh VOC. Cerpen ini bercerita
tentang kisah cinta seorang pembantu dan pengawal dari Meneer dan Mevrouw.
Kemudian cerpen
“Kalau Semua Wanita Jelek” yang merupakan serial dari salah satu cerita di Berjuta Rasanya. Cerpen ini
mengisahkan Jo dan Vin, dua orang sahabat yang menurut kriteria kecantikan masa
kini digolongkan pada kategori jelek atau lebih halusnya tidak cantik, tidak
menarik, dan tidak-tidak lainnya.
Cerpen ketujuh berjudul
“Percayakah Kau Padaku?” merupakan cerita yang terinspirasi dari kisah Rama dan
Shinta. Pada cerpen ini, Rama
yang merupakan pasangan Shinta dikisahkan merasa ragu akan kesucian Shinta yang
telah diculik Rahwana. Tere Liye begitu pandai merangkai alur demi alur yang
membuat pembaca hanyut dalam kisah yang berakhir menyedihkan ini.
Cerpen terakhir berjudul “Buat Apa
Disesali….” merupakan cerpen yang sangat menyesakkan hati. Cerpen ini berkisah
tentang seorang anak menteri dan anak pembantu. Dua orang yang bersahabat sejak
kecil dan jatuh cinta saat dewasa. Namun sayangnya takdir tidak mempersatukan
mereka. Cerita ini diambil dari kisah nyata seorang sahabat pengarang.
Salah satu hal yang jarang dijumpai pada
buku lain adalah pada cerita “Itje Noerbaja dan Kang Djalil” Tere Liye
menggunakan ejaan lama. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi pembaca
yang kebanyakan tentu tidak familier dengan penggunaan ejaan lama.
Di setiap tulisannya Tere Liye selalu
menyisipkan pesan-pesan bermakna dalam menjalani dan memahami setiap proses
kehidupan, begitu juga di dalam buku ini. Tere Liye selalu pandai merangkai
berbagai kata sederhana menjadi kalimat-kalimat penuh makna. Cerita-cerita
dalam Sepotong Hati yang Baru ini
sangat menarik untuk dibaca. Dengan merebaknya fenomena “galau”, buku ini layak
dibaca untuk memberikan pemahaman yang baik tentang cinta.

Comments
Post a Comment