Resensi "RINDU"
”Kapal bermuatan rindu dan kotak-kotak masa
lalu.”
Adalah
Rindu, novel terbaru karya Tere Liye yang mengisahkan tentang pelayaran sebuah
kapal bermuatan calon Jemaah haji di masa lampau. Dalam novel ini, penulis
berhasil menggabungkan antara sejarah, fiksi, romantisme, serta kisah heroik
dalam sebuah perjalanan suci.
Bersetting
di sebuah kapal bernama Blitar Holland saat musim haji pada Desember 1938,
takdir mempertemukan para tokoh yaitu Keluarga Daeng Andipati, Gurutta, Bonda Upe, Pasangan Mbah Kakung & Mbah Putri, Ambo Uleng serta tokoh lain
yang ikut dalam pelayaran. Mereka tidak hanya terlibat dalam takdir “saat itu”
saja, takdir ternyata hadir disana dan mengusik masa lalu dari para tokoh. Di
akhir cerita, takdirpun berhasil menghadirkan masa depan dari masa lalu.
Saat
membaca novel ini, kita akan merasa benar-benar ikut dalam pelayaran. Deskrpsi
waktu, tempat, serta tokoh membuat kita seperti turut hadir dan menyaksikan
setiap benang kisah yang dengan bantuan waktu akan terurai menjadi beraneka
bentuk kerinduan yang disampaikan tersirat oleh penulis. Ya, salah satunya
adalah kerinduan akan jawaban. Jawaban atas segala kisah yang mereka simpan
dalam kotak-kotak masa lalu dengan beraneka label; kebencian, dendam,
kerinduan, cinta, harapan….
Dibalik
kebahagiaan yang Daeng Andipati miliki saat ini, ternyata ia menyimpan
kebencian tak terperi pada sosok yang seharusnya ia hormati. Kelicikan,
kekerasan & kemunafikan adalah garis besar kisah lalunya. Masa kecilnya ia
habiskan dalam sebuah skenario besar yang diciptakan Daeng Patoto, ayahnya
sendiri. Beruntung, ia berhasil mencipatakan kehidupan baru yang jauh lebih
baik. Hanya saja, rasa benci itu terpatri dalam aliran darahnya. Tak berhenti
dan semakin menjadi bahkan setelah Daeng Patoto wafat. Kotak masa
lalu yang dia simpan rapi seolah dibuka paksa oleh suatu peristiwa penyerangan
tak terduga yang dilakukan oleh Gori Si Penjagal, mantan tukang pukul suruhan
ayahnya puluhan tahun silam.
Bonda
upe, wanita oriental menawan yang merupakan guru mengaji anak-anak selama di
atas kapal ternyata menyembunyikan sesuatu dalam kotak berlabel masa lalu.
Siapa yang mengira bahwa wanita pemalu ini dulu adalah seorangcabo,
pelacur. Rahasia yang ingin ia lupakan itu akhirnya terkuak saat Blitar Holland
transit di Batavia. Ia yang sebelumnya sempat ragu akhirnya turut bergabung
bersama rombongan untuk makan siang di sebuah kedai soto. Kotak masa lalunya
terbuka saat ia bertemu seseorang.
“Ling-Ling!” hanya sebuah nama
yang terlontar dari mulut wanita itu, ajaibnya hanya dengan sebuah nama, kotak
masa lalu Upe terbuka. Ya, Ling-Ling adalah nama Cabo-nya.
Seorang
pelaut Bugis telah memutuskan untuk menjadi bagian dalam pelayaran Blitar
Holland. Sebelumnya ia adalah seorang juru kemudi kapal Phinisi, tak mengapa
baginya jika di kapal uap ini ia hanya diberi pekerjaan sebagai kelasi dapur.
Pekerjaan yang tak sebanding dengan latar belakang karirnya. Bagi Ambo Uleng
bisa berlayar meninggalkan tempat tinggalnya saat ini adalah lebih baik, ia tak
peduli lagi dengan posisi karirnya. Ia hanya ingin pergi sejauh
mungkin. Namun ia abai satu hal, ia tidak bisa lari dari kenangan.
Kenangan akan terus mengikuti sampai kitalah yang bersedia berdamai dengan diri
sendiri, melakukan penerimaan atas segala hal yang ingin kita lupakan. Maka,
dengan berlayarnya Blitar Holland, resmi sudah Ambo Uleng meletakkan sesuatu
tentang perasaannya dalam kotak berlabel masa lalu. Tapi kemudian, takdir akan
membuktikan bahwa alasannya untuk pergi adalah alasan mengapa takdir membawanya
kembali.
Tokoh
paling bijak dan dihormati dalam pelayaran ini, dialah Ahmad Karaeng. Seorang
ulama masyhur dari tanah Makassar yang kerap disapa sebagai Gurutta. Petuahnya
bagaiakan embun di ujung kemarau, menyejukkan, bijak dan sangatopen minded.
Namun, dibalik itu semua Gurutta memiliki kisah pelik tentang rindu yang tak
akan pernah mampu terbayarkan untuk seseorang di masa lalunya. Pun, ia
menyimpan sesuatu dalam kotaknya. Sesuatu tentang pertanyaan yang akan terjawab
kemudian.
Tentang
kisah cinta pasangan sepuh Mbah Kakung dan Mbah Putri, takdirpun akan membawa
mereka pada kisah terbaiknya. Puluhan tahun berumah tangga, namun sedikitpun
perasaan cinta mereka tak pudar. Saling melengkapi, menerima, menemani dan
mencintai adalah janji mereka di awal pernikahan, dan janji itu tertunaikan
sudah di atas kapal ini, dalam kisah ini. Mbah Putri wafat saat kapal tengah
berlayar menuju Kolombo. Tak terperi kesedihan yang dipikul Mbah Kakung selepas
kepergian Mbah Putri. Terlebih kepergian mereka ke tanah suci adalah salah satu
pembuktian cinta mereka, pada Dia yang telah menghimpunkan mereka berdua dalam
kisah cinta ini. Mbah Putri dimakamkan dengan prosesi yang berbeda,
ditenggelamkan kedalam samudra. Lalu bagaimana dengan Mbah kakung? Sesuai
janjinya, beliau akan menemani kekasihnya, tidak hanya sebatas roh, tapi
jasadnyapun terbaring berdampingan di bawah Samudra. Semuanya hanya soal waktu.
Sempurna sudah kisah cinta mereka.
Begitulah,
novel ini sempurna menghanyutkan kita dalam imajinasi. Kisah yang disuguhkan didominasi
oleh kehidupan di atas kapal. Rutinitas di atas kapal yang monoton menjadikan
cerita ini sedikit membosankan. Namun, penulis kemudian menghadirkan hal-hal
baru yang muncul tak terduga. Peristiwa mesin kapal yang rusak, wafatnya Mbah
Putri, sampai pembajakan kapal yang dilakukan oleh perompak Somalia. Semua
hadir saat pembaca membutuhkan angin segar.Timingnya pas!
Hanya
saja, nama dua orang tokoh yang diambil dari karakter Disney yaitu Anna dan
Elsa rasanya memberi sedikit nilai minus pada originalitas novel ini, tapi itu
kan hak prerogatifnya penulis. hihi...
So far, novel ini BEDA!

Comments
Post a Comment