Tak Selalu Seindah Pelangi
Sore hari di lapangan ujung desa. Keriuhan terdengar dari bibir
anak-anak yang sedang bermain. Ada yang bermain voli, atau hanya
berkejar-kejaran. Dua ekor kerbau dibiarkan saja merumput. Seorang anak
mengendap-endap mendekati seekor kerbau. Dan … hap ia berhasil mendarat aman di
punggung si kerbau. Si kerbau dengan acuh tak peduli dan meneruskan merumput
dengan tenang. Sang surya mulai condong ke langit barat. Angin bertiup lembut
membawa sekumpulan mendung. Tiba-tiba gerimis hadir. Turun dengan pelan
membasahi bumi. Anak-anak tak beranjak pulang. Mereka tetap saja bermain dan
malah bersorak saat melihat warna-warni indah muncul di kaki bukit. Semburat
bianglala mewarnai angkasa. Penuh warna.
Gerimis berhenti beberapa saat kemudian. Sayangnya ia turut
membawa pergi si bianglala. Hilang begitu saja. Seakan-akan ia tak pernah ada.
Sorak sorai anak-anak pun berhenti saat ia pergi. Mereka berharap bisa
menyaksikan pelangi itu lebih lama tapi ia keburu lenyap saat gerimis mereda.
Dalam menjalani hari, tak jarang sesuatu yang tidak diharapkan
terjadi itu hadir. Seorang petani yang menabur benih padi di sawah berharap
hanya menuai padi saja di akhir musim. Begitu tanaman itu tumbuh, berbagai
tanaman lain bermunculan. Meskipun si petani tidak menanamnya. Tapi rumput,
semanggi, dan mungkin bahkan enceng ikut meramaikan ladangnya.
Saat rencana untuk bepergian sudah matang, sesuatu terjadi dan
menggagalkannya. Tepat di hari-H beberapa peserta tidak bisa hadir. Ada
kepentingan lain yang mendadak datang dan tidak bisa dihindari. Kekecewaan
menyebar saat acara tak terlaksana. Di waktu yang berbeda, sekelompok anak
berjanji untuk bertemu. Tempat dan hari sudah disepakati. Tapi ternyata apa
yang terjadi sama sekali diluar dugaan. Mereka baru bisa bertemu saat sinar
merah menerangi langit barat. Saat lampu-lampu taman menyala. Padahal mereka
berada di tempat yang sama. Di gedung yang sama. Pada waktu yang sama. Jarak
yang memisahkan mereka hanya setinggi 3 m antara lantai 1 ke lantai 2. Tapi
begitulah, mereka baru bisa berkumpul saat sepenggal hari hendak berganti.
Sungguh apapun yang terjadi menunjukkan bahwa Alloh itu ada. Ia
berkuasa atas segalanya. Dan telah bertindak sekehendak-Nya. Tidak jarang
ketentuan-Nya sangat berbeda dengan apa yang kita harapkan. Mengecewakan atau
bahkan membuat kita berduka. Tapi saat kita sedih, kecewa, marah, ataupun
terluka ketentuan yang telah Alloh tetapkan takkan berubah. Matahari tetap
terbit di ufuk timur. Pasang surut air laut tetap terjadi. Hari-hari terus bergulir.
Waktu terus berjalan dan tak pernah kembali. Kita tidak bisa menghentikannya
sesuai kehendak kita. Meskipun apa yang terjadi tak selalu seindah mimpi. Tak
selalu seindah pelangi.
Tapi kita bisa mewarnai hati ini dengan menerima dengan ikhlas dan
rela atas ketentuan-Nya itu. Itu akan membantu menyembuhkan segala rasa.
Menutup kekecewaan yang ada. Dan bahkan mungkin diantara badai hati kita akan
muncul seberkas pelangi yang indah di sana. Bagaimanapun kita hanyalah hamba
dan Allahlah yang berkuasa.

Comments
Post a Comment