Dirimu dan Dirinya
Secangkir cappucino ini
menemaniku disore ini., dikala senja mulai tidur kembali. Aku masih teringat
kejadian tadi. Oh bukan, bukan hanya kejadian hari ini. Tapi kejadian
akhir-akhir ini. Seolah-olah kejadian itu membawaku kembali ke masa lalu. Namun
kali ini dengan orang yang berbeda. Seseorang yang jauh berbeda 360 derajat
dari dirinya.
Baiklah, kali ini aku
akan menyebutnya Mr.B. Aku baru mengenalnya beberapa bulan ini, melalui
perkenalan singkat tanpa ada perasaan tertentu saat pertama kali bertemu. Hanya
saja sikapnya seringkali membuatku mengingatkan tentang seseorang yang jauh
disana, kamu. Seseorang yang sudah beberapa tahun ini tak bisa ku tatap matanya.
Ah, dia memaksaku memutar kembali film masa laluku. Lalu, sebuah perasaan aneh
muncul tiba-tiba. Ya, bagiku perasaan ini aneh, janggal. Aku tak bisa
mengartikan perasaan apa ini.
Jika aku mengatakan aku
telah jatuh cinta lagi, aku tak seratus persen yakin. Ada sesuatu yang
membuatku bimbang, ragu, untuk membuatku berkata “aku jatuh cinta lagi”. Aku
memang merasakan kenyamanan saat berada didekatnya. Aku selalu menikmati setiap
menit waktuku yang terbagi bersamanya. Namun tak bisa ku pungkiri dia selalu
memaksaku mengingat kembali momen masa laluku.
Lalu, apa sebenarnya
yang ku rasakan saat ini? Mengapa dia datang dengan cara seperti ini?. Saat ini
aku tak ingin terlalu berharap dengannya. Kejadian yang lalu sudah cukup
memberi pelajaran penting bagiku. Aku memang masih takut terluka karena lukaku
masih belum sepenuhnya sembuh. Entah sudah berapa kali aku hanya bisa mendesah
dan menghela nafas. Saat dia hadir untuk singgah dipikiranku namun semua
tentang dirimu seolah-olah datang kembali. Seharusnya aku menyadari bahwa
kalian adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Tetapi caranya menatap, saat dia
membuatku tertawa dan kesal, semuanya terasa sama. Bahkan aku merasa caranya
mendekatiku selalu membuatku teringat tentangmu. Aku pun seolah merasakan kehadiranmu
disisiku lagi. Namun kali ini dengan seseorang yang berbeda.
Jika secangkir cappucino
ini bisa memberikan jawabannya entah apa yang akan ku lakukan. Terkadang aku
berpikir bahwa ini hanya imajinasiku saja karena diriku yang terlalu perasa.
Ataukah memang karena diriku yang belum sepenuhnya bisa membuang jauh dirimu
dari pikiranku. Kau, apakah dirimu akan selamanya berarti bagiku? Atau aku yang
terlalu bodoh hingga aku tak bisa menepikanmu?. Aku tak ingin seperti ini,
sungguh. Jika seseorang itu bisa menggantikan posisimu, aku ingin melihatnya
utuh. Aku ingin perasaan yang sempurna. Aku tak ingin melihatnya karenamu,
bukan karena dia sama dengan dirimu. Dan satu hal yang pasti aku tak ingin
merasakan kejadian yang sama. Ya, cukup dengan dirimu, dulu.
Disela hujan
rintik-rintik sore ini, aku menikmati secangkir cappucino ini dengan sapaan
hangat wajahmu yang masih membayangiku.

Comments
Post a Comment