Berkaca Pada Alam
Jika kita perhatikan batu-batu yang bertengger dipinggiran sungai,
terkadang kuyup oleh sentuhan genit air-air sungai yang menghampiri walaupun
mereka terus berjalan. Namun untuk beberapa lama batu-batu itu mengering oleh
sinaran matahari yang menembus dari celah-celah dedaunan. Silih berganti air
dan matahari menyapa bebatuan yang tak pernah bergeser dari tempatnya, sebelum
perubahan alam atau tangan manusia yang menghendakinya berpindah. Kemudian jika
terlihat satu sisi dari batu itu yang terus menerus lembab, yang kemudian lumut
hijau nan cantik menghiasi seluruh sisi permukaan itu, artinya sinar matahari
tak pernah singgah diatasnya. Batu, air sungai dan sinar matahari itu
mengajarkan kepada kita tentang banyak hal. Kepasrahan batu-batu menerima air
dan sinar matahari, adalah cermin keikhlasan. Dan keteguhannya untuk tetap
ditempatnya, adalah kesabaran. Lumut hijau di sisi batu yang tak tersinari
matahari adalah petunjuk arah jalan.
Mendakilah lebih tinggi, kita akan menemukan jenis tumbuhan, warna
daun dan buah yang berbeda. Jalan semakin terjal dan sempit, hanya akar-akar
besar dari pohon tua yang terkadang menjadi perantara menuju undakan
berikutnya. Sesaat beristirahatlah dan perhatikan semuanya. Tumbuhan, daun dan
buah dengan warna yang lebih mencolok dan lebih khas, mengajarkan kepada kita,
bahwa Allah Maha Adil dengan menempatkan setiap makhluknya pada keadaan dan
tempat dimana ia bisa beradaptasi dan hidup. Satu hal bagi manusia, teruslah
bergerak mencari kehidupan, karena Allah akan senantiasa menuntun kita kepada
tempat kehidupan terbaik. Namun jika pada akhirnya kita berhenti disatu tempat
yang Allah kehendaki setelah semua usaha yang dilakukan, disitulah kita
meletakkan prinsip qonaah dan sabar, serta bersyukur atas ketetapan Allah.
Saatnya senja menyambut hari. Sinar merah kekuningan yang
menyejukkan masih bisa kita nikmati dari celah-celah ranting dan daun, sesekali
ia seperti berkedip dan terus memandangi semua makhluk yang terus bergerak.
Seperti mengikuti, matanya terus menatap dan mengawasi sementara sinarnya
semakin lama semakin redup digantikan malam. Tinggallah menunggu rembulan.
kemudian kita terus bergerak, mencari jalan dengan menggunakan mata bathin,
penerangan hanya alat bantu karena sesungguhnya kita lebih mempercayai mata
bathin dan kontak yang tak pernah putus dengan mata kaki. Senja hanya sesaat,
namun kahadirannya begitu memukau dan terasa manfaatnya. Tidak hanya indah,
senja senantiasa menebarkan pesona keanggunan kepada siapapun yang menatapnya.
Kepada hidup, kepada makhluk dan kepada Allah, semestinya manusiapun seelok,
sebermanfaat dan semenyenangkan senja. Karena mungkin, besok tak lagi tersedia
waktu untuk melakukan semua itu.
Dan bila malam tiba, kabut pekat menutup jarak pandang kita,
sementara angin kebekuan menyelimuti kulit tipis kita yang tak henti bergerak.
Sejenak berhenti sesungguhnya hanya menambah tebal selimut kebekuan itu
walaupun waktu yang sejenak itu untuk sekedar menyeruput air hangat dari tungku
batu. Tak banyak yang bisa dilakukan, tak banyak pilihan selain terus bergerak
keatas agar lebih cepat mendapati fajar. Ingin mata terpejam sekedar menghela
nafas dan mengaturnya satu persatu agar tak saling menyusul, tapi kehendak kuat
yang menggebu untuk segera tiba di puncak seolah tak bisa kompromi.
Rembulan hanya mengintip di kejauhan. Sedangkan kita terus
bergerak, mencari jalan dengan menggunakan mata bathin, penerangan hanya alat
bantu karena sesungguhnya kita lebih mempercayai mata bathin dan kontak yang
tak pernah putus dengan mata kaki. Terkadang sering kita mendapat satu kondisi
dimana tak lagi mempunyai pilihan untuk berbuat banyak, namun masih ada satu
dalam dada ini yang masih kita percayai karena ianya tak pernah berdusta. Ialah
mata hati dan nurani. Berhenti bukan jalan yang tepat apalagi kembali ke
belakang, padahal jalan tinggal selangkah. Tanyalah pada hati, niscaya
kebenaran yang kita dapat.
Dan pada akhirnya, setelah semua perjuangan, lelah, juga peluh
yang hampir tak bedanya dengan embun dipucuk dahan, sebuah tanah mengering pada
pijakan terakhir membuat nafas menjadi lega. Hilang semua lelah, lepas semua
keputusasaan yang menghantui selama perjalanan, karena mentari pagi menyambut
kehadiran kita di puncak perjalanan. Tersenyum adalah kepastian, kepuasan
adalah kewajaran dikala seperti tak ada lagi jarak antara kita dengan Sang
Pencipta dari puncak ini. Ingin rasanya berteriak meminta kepada-Nya, namun
ditempat ini, berbisik pun Dia pasti mendengarnya, karena kita begitu dekat.
Perjalanan takkan pernah berujung, namun sudah pasti ada masanya kita kan
berhenti. Teruslah mendaki agar kita semakin dekat pada-Nya. Teruslah bergerak,
namun jika telah sampai di puncak semua keinginan, jangan pernah lupa bahwa
kita pernah dibawah, dan pasti akan kembali ke bawah. Esok atau nanti. Wallaahu
‘a’lam bishshowaab

Comments
Post a Comment