Sesaat Matahari
Terik.
Panas. Debu. Itu yang harus kulalui setiap hari. Beranjak dari gubuk mulai
pagi. Seterusnnya hingga menjelang petang. Hidup memang penuh liku. Ada saja
tikungan tajam yang menghadang. Ada saja duri-duri dan kerikil tajam yang harus
ditapaki. Seperti itu pula yang harus kujalani di jalanan ini. Bermodalkan
mangkuk kecil, kubuang muka yang ada. Oh, kasihan anakku yang harus kubawa di kehidupan yang kejam ini. Maafkan aku,
Nak. Apalagi yang bisa kulakukan. Hanya ini yang bisa menghidupi kita. Kutahu
kau kepanasan. Tahanlah nak, ini tak lama.
“Pak…” hanya itu yang sering kuucapkan
kepada pengendara yang lewat dibawah lampu merah lalu lintas sembari mengajukan
mangkuk kecil yang kupegang. Malu harus bilang apa, selain terima kasih kepada
mereka yang kasihan melihatku. “Ini seribu, sana-sana,” meski sakit terasa,
kupasrah saja. Itu sudah sering kudengar. Kutahu ia jijik melihatku. “Hei, Bu
kerja dong, jangan minta-minta melulu. Dasar pemalas”.
“Orang seperti itu jangan dikasih
uang, nanti tambah malas. Itu tidak mendidik.” Kutahu benar apa yang mereka
katakan. Tidak mendidik memberi uang kepada pengemis sepertiku. Benar akan
membuat orang semakin malas. Tapi kumohon, itu tidak denganku. Aku tak tahu
harus bagaimana lagi, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tuhan, hanya Engkau
yang tahu apa yang harus aku lakukan. Oh, anakku.
Aku hanya bisa menutupi mata dan
telinganya agar tidak ikut melihat wajah-wajah jijik yang memandangku.
Bentakan-bentakan yang menghinaku. Tidurlah saja nak. Seribu rupiah lagi yang
harus ibu cari untuk makan kita pagi ini. Berdoalah nak. Semoga ada yang ikhlas
memberi kita sisa rezekinya. Tahanlah nak, ini tak lama.
Ibu, sampai kapan kita begini.
Sampai kapan kita dipanggang matahari setiap hari ? Bukan ku bermaksud
menyalahi takdir Ibu. Bukan pula ku menyalahkan Ibu yang membawaku diburuknya
kondisi seperti ini. Aku hanya kasihan padanya. Meski ia berusaha menutupinya,
kutahu Ibu tidak tahan dengan perlakuan orang-orang. Aku menyesal harus membuat
Ibu susah payah begini. Yang ia lakukan semata-mata hanya untuk membesarkanku.
Kalau perutku lapar, aku berusaha menahan tangis.
Sekuat tenaga, aku tak ingin Ibu
mengkhawatirkanku. Tak ingin Ibu cemas. Peluh keringat diwajahnya, membuatku
tak sanggup mengeluh perih kosongnya lambungku. Cukup senyum Ibu yang
menguatkanku. Andai Ibu mau, aku juga bisa membantunya. Toh, pernah kulihat
anak sepertiku bekerja seperti Ibu. Minimal untuk membuatku bisa makan. Dan Ibu
pun tenang. Tapi Ibu tidak mau. Aku tidak boleh bekerja seperti itu. Itu hanya
pekerjaan orang-orang malas dan yang memang tidak bisa lagi bekerja. Tapi aku
tidak setuju. Ibu bukan pemalas. Setiap selesai sholat subuh, ia segera
menggendongku menuju tempat ini. Dibawah lampu lalu lintas. Berkilo-kilo
jauhnya. Aduh, aku mulai tidak tahan dengan laparku. Perutku terasa
terkoyak-koyak. Kucoba tegar sekuat hati. Biasanya aku berusaha untuk tidur
guna melupakan sakit ini. Kali ini tidak. Tidur pun aku tidak bisa. Oh, anak
seusiaku masih sulit menahan derita seperti ini. Maafkan aku Ibu. Aku menangis.
Sabar ya sayang, sebentar lagi kita
makan. Oh, Tuhan rahmatilah kami. Kasihanilah anakku. Kalau sudah begini, aku
semakin aktif meminta belas kasihan. Semakin sakit pula hati ini. “Maaf Pak,
anak saya belum makan, kasihanilah kami.” Hey, kau tidak baca spanduk disana !”
bentak istrinya JANGAN MEMBERI UANG DI JALANAN. Berkali-kali kubaca spanduk
itu. Pak Gubernur yang menginstruksikannya. Memang, sekali lagi kuakui aku salah.
Tapi aku tak peduli dengan spanduk itu. Peduli apa gubernur dengan orang
sepertiku. Melarang orang meminta-minta di jalanan tetapi tidak memberi solusi
yang pasti. Dulu, aku pernah diamankan. Katanya untuk diberi keterampilan. Tapi
apa ? Hanya celaan yang kudapatkan. Meskipun nantinya aku punya keterampilan,
siapa yang mau beli hasilnya ? Atau siapa yang ingin mempekerjakanku ? Mereka
jijik melihatku. Ya, ini yang harus kukatakan.
Aku menderita kusta. Penyakit yang
paling dibenci kebanyakan orang. Setiap langkahku, dijauhi orang. Pandangan
yang mengarah padaku adalah pandangan muak, jijik. Entahlah. Aku bagaikan
terisolasi sendiri dalam luasnya dunia. Kehadiranku menggelisahkan banyak
orang. Orang senang jika aku pergi. Pernah, diawal-awal menjalani pekerjaan
ini, aku selalu naik angkutan umum menuju tempat ini. Aku sisihkan dua ribu
rupiah tiap hari untuk naik angkutan. Tapi kemudian, perlahan aku mulai dikenal
sebagai orang berpenyakitan. Orang-orang mulai risih jika aku duduk didekatnya.
Hingga tak ada lagi sopir yang mau
mengangkutku. Akhirnya jalan yang berkilo-kilo harus kutempuh dengan berjalan
kaki. Hal-hal seperti itu tentu wajar untuk dimaklumi. Tak ada yang mau ditulari
penyakit seperti ini. Tapi apa mereka lupa, penyakit TBC justru lebih berbahaya
dan sangat mudah menular. Bersin dan batuk sedikit saja, penyakit itu bisa
dengan mudah menular ke orang lain. Mengapa mereka tidak menjauhinya ? Atau
mengapa orang yang mengidap penyakit AIDS dikampanyekan untuk tidak dikucilkan.
Bukankah penyakit itu adalah azab dan bencana akibat perbuatan biadab mereka ?
Lalu aku ? Dosakah ini ? Percuma !!! Suamiku pergi entah kemana. Menghilang.
Tak ada yang ditinggalkan untuk istri dan anak-anaknya. Tak ada harta sepersen
pun. Inilah beban hidup yang harus kujalani.
Oh, anakku masih tersedu-sedu. Bisa
kurasakan betapa perihnya yang ia alami. Tubuhnya semakin kurus saja. Aku
merasa berdosa. Seharusya ia sekarang tengah bermain dengan anak seusianya.
Bahkan merasakan indahnya taman kanak-kanak, belajar sambil bermain. Tapi aku
tak bisa itu. Anakku terpaksa kubawa ke tempat peraduan ini. “De, kasihan
anakku belum makan,” lirihku pada anak muda yang berseragam putih abu-abu itu.
Wajahnya berseri. Bercahaya. Seolah tak ada penderitaan yang pernah ia rasakan.
Beda denganku, kusut. “Ini Bu, untuk makan ibu dan anaknya ya”. Syukurlah ya
Allah, alhamdulillah akhirnya anakku bisa makan juga hari ini. “Dan ini untuk
besok. Minimal besok Ibu tidak mengemis lagi sehari,”lanjutnya lagi. Alangkah
indahnya manusia seperti itu. Aku bahkan malu pada diriku, hanya memanfaatkan
kebaikan orang lain.
“Alhamdulillah, akhirnya Ibu membelikanku
juga makanan. Nasi putih dan ikan. Itulah makanan kami sehari-hari. Saat-saat
makan kuanggap anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Betapa
nikmatnya, perut yang tadinya meronta-ronta kini telah terisi satu persatu
nasi. Ya, akhirnya. Kulihat wajah Ibu. Peluh keringat masih menempel
diwajahnya. Dengan lahap ia menikmati menu makanannya. Aku bisa merasakan
kebahagiaan di matanya. Aku tak pernah tahu mengapa Ibu hidup seperti ini. Yang
kutahu Ibu hanya mempunyai penyakit sedikit ditangan kirinya. Semenjak ayah
pergi, Ibu tak pernah lagi mengobati penyakitnya itu. Huh, sejauh ini yang
kunamai hidup adalah bagaimana kita bisa makan setiap hari. Apalagi. Sudah
terlalu beruntung kalau kami makan dua kali sehari. Biasanya cuma sekali
sehari. Disaat matahari tepat diatas kami.”
Terima Kasih. Kunjungi juga : vivisetyani.blogspot.com
Terima Kasih. Kunjungi juga : vivisetyani.blogspot.com

Comments
Post a Comment