LEBIH BAIK DIAM :)



S
uatu ketika, mungkin kita pernah mengalami, merasakan, bahkan sampai menikmati beberapa kejadian yang menurut kita tidak menyenangkan. Seketika itu pula, kita merasa menjadi orang yang paling malang sedunia. Tidak ada lagi orang yang paling menderita, kecuali kita.
Atau, mungkin yang kita rasakan sedikit berbeda. Pernahkah kita menjadi diri yang selalu merasa paling benar? Terutama, ketika terjadi pembicaraan yang menyudutkan kita. Ketika ada perdebatan yang serasa menyalahkan kita. Lalu, kita pun menjadi orang yang paling benar. Paling tidak menurut diri sendiri. Semua dalil dimata kita -saat itu- adalah salah. Pemahaman, teori, dan keyakinan kita-lah yang paling benar. Semuanya tidak ada apa-apanya dibanding hasil pemikiran kita.
Ketahuilah, sesungguhnya kedua hal di atas sangat wajar. Karena sifat dasar manusia memang diciptakan seperti itu: berkeluh kesah dan merasa diri paling benar atau ego. Yang berbahaya adalah menjadikannya Ilah, yang diikuti dan dituruti. Menjadikannya langganan bahkan setiap harinya, atau setiap kali menghadapi ‘rangsangan’ serupa.
Ketahuilah saudaraku, jika kita mengikuti itu semua, maka kehinaan akan lebih dekat kepada diri kita. Tak jarang, saudara-saudara kita yang tidak mengerti itu, menjadikan dirinya sebagai budak dari pemikiran dan perasaannya. Menjadikannya pengikut, yang menjadikannya jatuh ke dalam lubang kehinaan, kehancuran, dan penyesalan. Berapa banyak yang mengingkari kalimat-kalimat saya ini, sehingga mereka terbakar amarahnya, atau tertutupi logika berpikir logisnya. Dia tidak bisa berpikir dan bertindak dengan lurus. Dia tidak bisa berpikir dan bertindak dengan hanif. Semuanya karena menuruti persangkaan yang berlebihan tentang sesuatu yang tengah dihadapinya. Tentang sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.
Oleh karena itu, jika kita tidak atau belum bisa mengatasi karakter dasar manusia yang dua ini, maka yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah DIAM. Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan kembali sembari memejamkan mata, menangis, dan terkulai lemah. Diamlah beberapa saat, untuk merenungi bahwa kita masih sangat beruntung walau dengan sedikit derita yang kita rasa, masih banyak lagi saudara-saudara kita yang lain yang keadaannya sedang tidak beruntung. Diamlah beberapa jenak, untuk menyadarkan diri bahwa sesungguhnya jika kita benar, kemungkinan besar orang lain juga bisa benar. Untuk mengingatkan kembali bahwa jika orang lain salah maka sesunggunya kita juga bisa salah. Salah itu tempatnya pada manusia, sementara benar itu adalah persepsi kita. Persepsi yang terkadang bebas nilai, bebas tafsir, bahkan bebas kutip. Jadi, benar menurut kita sangat relatif. Sehingga, kebenaran itu mutlak adanya bagi Allah.
Namun, jika itu tidak berhasil, terkadang pertimbangan kita bukanlah tentang benar atau salah, menderita atau tidak, melainkan berharga atau tidaknya diri. Suatu ketika, terkadang kita merasakan bahwa orang lain tengah merendahkan harga diri kita, menginjak-injak dan menghancurkannya. Sekali-kali tidak. Orang lain tidak pernah tahu berapa harga diri kita, lalu bagaimana dia bisa merendahkannya. Dan sampai batasan apa perendahan itu bermakna bagi kita. Ketahuilah, bahwa orang yang tidak punya harga justru inginnya dihargai. Orang yang punya harga justru menghargai. Jangan pernah minta dihargai, tetapi hargailah orang lain jika memang diri kita benar-benar berharga.
Demikian saudaraku, renungan untuk hari ini. Selamat siang :)
Terima Kasih. Kunjungi juga : vivisetyani.blogspot.com

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel Maneken

Resensi "A Very Yuppy Wedding" - Ika Natassa

Resensi "Matahari" - Tere Liye